Showing posts with label Peringatan. Show all posts
Showing posts with label Peringatan. Show all posts

Monday, March 12, 2012

Kenikmatan Melihat Allah

Satu kenikmatan dan kebahagiaan yang akan dirasakan kaum mu’minin tatkala menghadap Rabbnya di hari akhirat dalam keadaan beriman, sebaliknya sungguh malapetaka, kebingungan yang luar biasa serta penyesalan yang sangat mendalam dirasakan orang-orang kafir di hari itu. Allah menggambarkan keadaan mereka dalam firmanNya (yang artinya), "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (QS Al Qiyamah: 24-25).


Orang-orang yang beriman yakin betul dengan firman Allah (yang artinya), "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS Al Kahfi: 110).

Sehingga Allah menggambarkan keadaan mereka di akhirat dengan firmanNya (yang artinya), "Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS Al Qiyaamah: 22-23).

Para pembaca, tentang dapat melihatnya orang-orang mu’min kepada sang penciptanya, Dzat yang Maha Besar Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat adalah perkara yang menyangkut masalah aqidah, betapa tidak, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Yang menjadi kesepakatan para salaf, bahwa barangsiapa yang mengingkari ru’yatullah (melihat Allah) di akhirat ia telah kafir." Kemudian beliau menukil pernyataan Imam Ahmad, "Siapa yang mengira bahwa Allah tidak dapat dilihat (secara mutlak -pent.) ia telah kafir dan mendustakan al Qur’an, dikembalikan urusannya kepada Allah, diterima taubatnya bila ia bertaubat, bila tidak maka diperangi / dibunuh!" (Dari Majmu’ul Fatawa: 6/486 dan 500).

Adakah golongan yang menolak ru’yatullah secara mutlak? Karya-karya para ulama terdahulu menjadi saksi akan keberadaan golongan ini, kitab-kitab mereka dipenuhi dengan bantahan-bantahan atasnya, sehingga masalah ini (ru’yatullah) adalah masalah prinsip yang membedakan antara aqidah Islam dan aqidah yang tidak berasal dari Islam, muncul sejumlah nama besar para penentang ru’yatullah seperti al Jahm bin Shofwan as Samarkondy dengan gerakan Jahmiyahnya, Amr bin Ubaid, dan Washil bin Atho’ al Fazaary dengan gerakan Mu’tazilahnya serta golongan al Imamiyah dan az Zaidiyah dari kelompok Syi’ah, mereka memelintir nash-nash yang berkaitan dengan ru’yatullah, berusaha mempreteli dan menjauhkan umat dari aqidah yang benar, bukan hanya mereka yang tengah berusaha menyimpangkan umat, tetapi juga muncul dari kelompok suluk kaum sufi yang beranggapan bahwa Allah dapat dilihat di dunia dan di akhirat, bahkan sebagian dari mereka kelompok hululiyah menyatakan bahwa Dzat Allah dapat bersatu dengan makhlukNya, juga al Ittihadiyyah yang mengatakan bahwa makhluk adalah Allah, dan Allah adalah makhluk, wal ‘iyaadzu billah.

Para pembaca, sejumlah golongan sesat itu, meski para tokoh dan nama gerakannya telah tiada - seperti al Jahm bin Shofwan yang telah berhasil dibunuh Salim bin Ahwaz di Irak pada tahun 121 H - tetapi pemikiran dan keyakinannya telah menyebar luas hingga generasi kita, perubahan nama tidaklah merubah hakikatnya, berhati-hatilah!

Telah sepakat para salaf tentang penetapan melihat Allah dengan mata di akhirat bagi orang-orang yang beriman serta peniadaan dari melihatNya di dunia. Allah berfirman (yang artinya), "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (QS Yunus: 26). Yang dimaksud "tambahannya" ialah melihat wajahNya (Allah) yang mulia, sebagaimana penafsiran sejumlah para sahabat di antaranya, Abu Bakar ash Shiddiq, Hudzaifah ibnul Yaman, Abdullah ibnu Abbas, Sa’id ibnul Musayyab, dan yang lainnya. (Lihat Tafsirul Qur’anil Azhim: 4/435).

Demikian pula Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan beliau bersabda, "Apabila ahli surga telah memasuki surga, Allah berkata pada mereka, "Apakah kalian mau Aku tambahkan sesuatu?" Ahli surga menjawab , "Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Rosulullah berkata, "(Maka Allah membuka hijab/ penghalang, maka tidak ada sesuatu pun yang telah diberikan pada mereka (penghuni surga) yang paling mereka senangi daripada melihat kepada Rabbnya Azza wa Jalla." (HR Muslim -Kitabul Iman dari Suhaib radhiyallahu ‘anhu).

Allah juga berfirman (yang artinya), "Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) tuhan mereka." (QS Al Muthaffifiin: 15). Berkata Imam Syafi’i rahimahullah, "Maka, ketika Allah subhanahu wa ta’ala dengan kebencianNya menghalangi mereka (orang-0orang kafir) dari melihatNya, ini berarti dalil bahwa mereka (para wali Allah, orang-orang mu’min) melihatNya dengan keridhoanNya." (Syarh Ushulul I’tiqaad: 3/506).

Teramat banyak hadits-hadits yang memuat tentang orang mu’min melihat Allah di akhirat, bahkan dikategorikan sebagai hadits yang mutawatir oleh Ibnu Hajar al Atsqolaaniy dan lainnya, kami sebutkan di antaranya. "Orang-orang bertanya kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rosulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?’ Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah kalian terhalangi dari melihat bulan pada malam purnama?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rosulullah.’ Beliau berkata lagi, ‘Apakah kalian terhalangi dari melihat matahari yang tak ada awan di bawahnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rosulullah berkata, ‘Sesungguhnya kalian akan melihatnya (yakni Rabb) seperti itu (yakni jelas tanpa ada penghalang).’" (HR Bukhori -Kitabut Tauhid- dan Muslim -Kitabul Iman-, dari sahabat Abu Hurairoh).

Ibnul Qoyyim berkata, "Al Qur’an dan Sunnah yang mutawatir, serta ijma / kesepakatan para sahabat dan para ulama Islam serta ahli hadits menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dapat dilihat pada hari kiamat dengan mata secara nyata, seperti halnya bulan, dapat dilihat dengan jelas pada malam purnama yang cerah dan seperti halnya matahari dapat dilihat dengan jelas di siang hari." (lihat Haadii al Arwaah).

Demikianlah para pembaca, semoga kita tergolong kepada orang-orang yang mendapat nikmat melihat wajah Allah subhanahu wa ta’ala di surga dan semoga kita disatukan untuk itu. Amiin ya Mujiibassaailiin. Wal ‘ilmu ‘indallah.
Continue Reading...

Thursday, February 23, 2012

sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak

Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling dari agama, serta mengumpulkan harta benda lalu menyimpannya.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir , apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman dari kedatangannya. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya. dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu di syurga lagi dimuliakan.

Al MA´AARIJ (TEMPAT-TEMPAT NAIK)











Continue Reading...

Bilakah Lalai Ini Berakhir?

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (Al Anbiyaa’: 1)

Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan setiap ayat - ayat suci al quran dan hadist Rasulullah serta apa yang tertulis didalam kitab - kitab-Nya, yang menceritakan tentang sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dimana kita akan melihat kebanyakan manusia lalai terhadap akhirat, lalai terhadap kewajiban agama, lalai terhadap fitrah mereka yang mana mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka rela memeras otak dan tenaganya demi mendapatkan dunia dan perhiasannya, namun untuk agama terasa berat memerasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka mau mengerjakan kewajiban agama bila ujung-ujungnya mereka mendapatkan dunia.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (terjemah Huud: 15-16).

Orang yang seperti ini kata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ 

وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamiishah (pakaian mewah), jika diberi ia senang, jika tidak ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah, kalau terkena duri semoga tidak tercabut.” (HR. Bukhari)
 
Saat ini tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa kebanyakan manusia hidup dalam kelalaian yang nyata dari (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kampung akhirat. Dunia dan seluruh perhiasannya telah menjebak umat manusia, angan-angan tak karuan sudah menipunya, dan mereka telah disetir oleh keinginan-keinginan , serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada perbuatan yang mereka anggap bagus secara lahiriah, namun dengan ini semua diri masih mengira bahwa telah berbuat sebaik-baiknya perbuatan.

Sesungguhnya ghaflah (lalai, terlena) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkram jiwa, serta menawan / melumpuhkan angota badan. Semua aktifitas mereka didasari karena dunia, mereka cinta kepada seseorang karena dunia meskipun orang yang dicintainya adalah orang kafir, bencipun karena dunia meskipun orang yang dibencinya adalah orang mukmin, bertengkar karena dunia, bahkan karena dunia mereka tinggalkan perintah Rabb mereka.

Al Imam Ibnu Al Qayyim rahimahumulloh berkata: Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemashlahatan baginya, sedang mereka menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Namun apakah lalainya kebanyakan manusia dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan dari hari kemudian itu merupakan hujjah bagi orang-orang yang lengah dan suka main-main? Sama sekali tidak…..Itu bukan hujjah bagi mereka, bahkan menjadi hujjah atas mereka, karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja yang tidak ada sekutu baginya, dan meninggalkan jalan-jalan kelengahan dan kesesatan, begitu juga Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan dari sikap lalai dan semua pintu-pintunya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati-mu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS: Al ‘Araf: 205)

Al Imam Abu Muhammad Al Qushariy berkata: Sungguh Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah melarang manusia berbuat lalai, dan Dia telah memerintahkan agar selalu mengingat-Nya setiap saat, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS: Al-Ahzab: 41) Dan berfirman, yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring...” (QS: Ali Imran: 191)

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan terenyuh, serta tidak tergerak sedikitpun dengan mau’idhah (wejangan), dia bagaikan batu, bahkan lebih keras. Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu dengannya membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.

Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, nyanyian, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS: Yunus: 7-8)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridla dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman dia mendapat kemurkaan Allah, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman dia tidak berdosa Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatan-nya telah dikunci mati oleh Alloh, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS: An Nahl: 106-108)

Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata: Dan lalai dari (mengingat) Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian bila berpasangan dengan mengikuti hawa nafsu maka terlahirlah dari keduanya segala macam keburukan, dan umumnya bergabung antara keduanya dan tidak pernah terpisahkan. Barang siapa memperhatikan kerusakan situasi alam ini, secara umum maupun khusus maka dia bakal mendapatkannya sebagai akibat dari kedua hal ini. Kelalaian menjadi penghalang antara seseorang dengan kemampuan memandang kebenaran, mengetahuinya, dan memahaminya, sehingga ia termasuk dalam jajaran orang-orang yang sesat.


Bersambung Insya Allah

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Mencari Ridha Allah

Mencari atau mengharap atau semata-mata demi “keridhaan Allah” adalah ungkapan jawaban yang sering kita dengar tatkala kita menanyakan tujuan dari suatu amal yang dilakukan oleh saudara kita. Jawaban itu sejatinya mencerminkan keimanan yang benar, jika memang diyakini seperti itu, terucap seperti itu, dan terwujud dalam realita amal yang selaras dengan itu jika tercermin dan terlaksana dalam kehidupan sehari - hari.

Alangkah sayangnya, jika kita hanya memahami makna pernyataan yang agung tersebut dan semata-mata hanya menjadi ucapan bibir yang lahir bukan dari pemahaman dan keyakinan. Dan ia menjadi kata-kata yang tidak bermakna karena tidak ada korelasi dengan perilaku kehidupan sehari - hari.

Hal yang sering membuat saya berpikir dan mengevaluasi kembali tentang apa yang telah saya lakukan , ketika dalam kesunyian sendiri menghisab segala ucapan dan perbuatan dan bertanya apakah yang saya lakukan selama ini benar dalam rangka menggapai ridha Allah atau tidak adalah ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang seharusnya sesuai dengan pedoman yang ada.
Terkadang saya pun kembali merenung, apakah artinya dengan mengikhlaskan tujuan karena Allah semata ?

Pernyataan bahwa keimanan yang benar adalah menjadikan Allah sebagai dzat yang satu-satunya dicintai, namun dibalik itu semua keimanan tidak menafikan adanya cinta kepada isteri, anak, atau harta benda. Keimanan yang benar adalah menempatkan cinta kepada semua itu dalam rangka mencintai Allah dan cinta kepada semua itu adalah cinta yang dilakukan melalui jalan yang telah ditunjukkan dalam ayat - ayat - Nya. Bukankah Demikian ..........? 

Keselamatan , keberkahan , karunia , rahmat , ampunan adalah hal yang ghaib, berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Apakah pada akhirnya seseorang selamat atau tidak, semua itu menjadi rahasia Allah. Jika seseorang melakukan ketaatan demi memperoleh sesuatu yang masih menjadi rahasia Allah, di mana Allah berkuasa memberikan hal itu, tentu fenomena yang demikian bukanlah sesuatu yang dimaksudkan dalam firman - Nya. 

Sesungguhnya dalam Al Quran itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al 'Ankabuut : 51

Ridha terhadap Allah berarti menerima semua ketentuan Allah terhadap manusia dan tuntutan Allah terhadap manusia. Ketentuan Allah terhadap manusia merupakan qadha dan qadar yang sudah tertulis dalam kitab Lauh Al-Mahfudz. Apa yang ‘telah’ berlaku atas manusia disebut takdir, yang mana kita diperintahkan untuk mengambil hikmahnya agar kita lebih taat kepada Allah. Dan tuntutan Allah terhadap manusia merupakan takdir syar’i (ketentuan syariat) berupa wahyu Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw untuk dipelajari, diamalkan, dan untuk ditaati.





Mencari ridha Allah bisa diartikan menerima ketentuan Allah atas diri kita. Dalam konteks terbang, berarti siap untuk selamat ataupun tidak selamat, karena semua itu adalah rahasia Allah diluar jangkauan kita. Mencari ridha Allah juga berarti menerima tuntutan Allah terhadap diri kita. Dalam konteks terbang, jika kita menghendaki keselamatan maka kita pun hendaknya banyak mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan banyak amal ketaatan. Itulah upaya maksimal yang bisa dilakukan.

Mencari ridha Allah berarti berupaya semaksimal mungkin menjalankan ketaatan kepada Allah dan menyerahkan hasil akhir ketaatan itu kepada-Nya. Tentu kita tidak bisa dengan pasti mengklaim atau menilai seseorang itu telah menempuh jalan dalam keridhaan-Nya atau tidak. Tetapi setidaknya kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah kita telah beramal semata-mata mencari ridha Allah atau tidak.


Wallahu A'lam
Continue Reading...

Janji Allah Itu Benar

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi hari kiamat, yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la'nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, . untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. 

AL MU'MIN (ORANG YANG BERIMAN)

Continue Reading...

Masing Masing Kami Siksa

Dan kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu kehancuran mereka dari puing-puing tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan Allah, sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam, dan juga Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan membawa bukti-bukti keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput dari kehancuran itu.

Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. 

Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Al 'Ankabuut
Continue Reading...

Wednesday, February 22, 2012

Ayat Ayat Allah

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.

Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap pahala amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong. 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Al Kitab , mereka diseru kepada kitab Allah supaya dengan kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi kebenaran. 

Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari kiamat yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).

Continue Reading...

Jika Kamu Menyimpang

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.



Tetapi jika kamu menyimpang dari jalan Allah sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Continue Reading...

Segala puji bagi Allah

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami."

Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata ",

supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.

Dan orang-orang yang berusaha untuk menentang ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu azab yang pedih.

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki manusia kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dan orang-orang kafir berkata kepada teman-temannya. "Maukah kamu kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan kembali dalam ciptaan yang baru?

Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?" 

Tidak, tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh.

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?

Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Tuhan bagi setiap hamba yang kembali kepada-Nya.

Saba' : 1 - 9
Continue Reading...

Sekiranya beriman dan bertakwa

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga-duga ? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah lenyap penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar pelajaran lagi ?

Negeri-negeri yang telah Kami binasakan itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu.

Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.

Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

Al A'raaf : 96 - 102
Continue Reading...

Kami Turunkan Al Quran

Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.


Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu,

merasa aman dari bencana ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka,

atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,

atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan,

maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak azab itu atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur sampai binasa.

sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Continue Reading...

Kutukan

kutukan dan ancaman

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut api neraka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran." 

Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." 

Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka dengan mengatakan : "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa yang Tuhan kamu menjanjikannya kepadamu?" 

Mereka penduduk neraka menjawab: "Betul." 

Kemudian seorang penyeru mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, yaitu orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." 

Al A'raaf : 40 - 45
Continue Reading...

Neraka Saqar

Al Muddatstsir : 27 - 30

Tahukah kamu apakah neraka Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia. dan di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga.


Al Muddatstsir : 42 - 48

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian."

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at.
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info

?>

Text

Dunia Islam Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template