Showing posts with label Anak anak. Show all posts
Showing posts with label Anak anak. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

Kehidupan Dunia Dan Kehidupan Akhirat

"kehidupan akherat pasti adanya tidak ada keraguan padanya"

Dari sekian banyak ayat - ayat yang menjelaskan tentang kehidupan akherat , perbandingan diantara keduanya (kehidupan dunia dan akherat ) adalah ibarat kita mengambil air dilautan dimana kehidupan dunia adalah air yang ada dalam genggaman kita sedangkan kehidupan akherat adalah air laut yang masih tersisa / tertinggal dilautan. sebagaimana dijelaskan dalam firman Allaah surah Ar Raad : 26 :

"Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit" 

Alangkah  ruginya kita manusia , merasa senang , gembira dan puas serta merasa cukup dalam kehidupan yang kecil dan terbatas di dunia ini dan melupakan kehidupan yang lebih kekal di akherat kelak , terbakar , sengsara dan tersiksa dalam neraka selama-lamanya.

Satu paradigma yang sudah tidak asing lagi sejak dahulu manusia seringkali lupa dan lalai serta ingkar serta menganggap apa yang telah diperingatkan oleh para nabi dan rosul sebagai sesuatu yang tidak masuk akal sama sekali, bahkan tak jarang mereka menganggap apa yang telah diperingatkan kepada mereka adalah hanya merupakan dongengan orang - orang purbakala.

Bahkan tak jarang ketika apa yang diperingatkan itu merupakan suatu kebenaran dan ketika bukti - bukti atas apa yang diancamkan kepada mereka itu terjadi mereka menganggap itu adalah sihir , kebetulan dan atau karangan serta kebohongan semata. maka tak lain dan tidak bukan serta tidak dapat dihindarkan lagi alangkah hebat dan besarnya penyesalan yang akan menimpa mereka nanti, sesal yang tak akan mungkin dapat ditebus lagi kecuali dengan azab dan siksa baik didunia maupun diakherat.

Banyak dan seringkali disebutkan didalam ayat - ayat al quran dan hadist dimana Allaah dan Rasul-Nya berulang kali menegaskan untuk difahami dan diyaqini oleh kita manusia, bahwa kehidupan akherat itu adalah kehidupan yang amat penting, jauh lebih penting dari kehidupan didunia sekarang ini , bukan saja lebih penting tetapi lebih besar dan lebih lama (kekal) dan lebih patut untuk diutamakan bagi orang - orang yang beriman.

Yang pasti terjadi atas setiap makhluk adalah bahwa masing - masing akan mati dan sesudah mati akan dihidupkan dan dibangkitkan kembali dalam suatu kehidupan untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang telah kita lakukan didunia.

Allah SWT telah menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ketetapan bagi kita untuk berbuat kebajikan sebanyak - banyaknya , menanam benih sebanyak-banyaknya demi untuk kehidupan kelak di akhirat. Apa yg dilakukan manusia di dunia akan berdampak dalam kehidupan akhirat , enak dan tidaknya kehidupan seseorang di akhirat kelak akan sangat bergantung pada bagaimana ia menjalani kehidupan di dunia ini, Manakala manusia selama didunia beriman dan banyak beramal saleh maka ia pun akan mendapatkan keni’matan dalam kehidupan di akhirat, sebaliknya manakala selama didunia manusia tidak beriman dan banyak melakukan kejahatan , kerusakan dan kemaksiatan maka iapun akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Karena itu ketika seseorang berorientasi memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan di akhirat maka ia akan menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana yg ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika manusia berorientasi kepada kehidupan akhirat bukan berarti ia tidak boleh menikmati dan mengurusi kehidupan di dunia ini , karena segala hal-hal yang bersifat duniawi / kehidupan dunia ini adalah ladang bagi kita untuk beribadah , berbuat kebajikan , berlomba mendapatkan ampunan , berlomba untuk memperbanyak amal saleh , itulah tugas manusia didunia seperti yang sudah kami uraikan dalam catatan sebelumnya (Tiga Tugas Pokok Manusia Di Dunia)

Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, bahkan beberapa detik ke depan waktu terus berlalu seiring perjalanan hidup, gunakan apa yg sudah kita peroleh dengan cara yang baik dan untuk kebaikan diri sendiri , orang lain maupun lingkungan hidup tempat kita menjalani kehidupan ini. 

Dan carilah apa-apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat kerusakan.” 

Apapun yang kita raih dan kita nikmati dalam kehidupan di dunia ini semua adalah dalam rangka membekali diri kita untuk kembali kepada Allah SWT dengan amal saleh yg sebanyak-banyak dan ketakwaan yang setinggi-tingginya.

Allah Subhanahu Wata'ala tidak mengharamkan perhiasan dunia dan segala kenikmatan yang kita peroleh di dunia ini , namun janganlah hal tersebut membuat kita lupa karena setiap karunia allah yang berupa kenikmatan dunia baik harta , pangkat , jabatan , adalah cobaan apakah kita mau bersyukur atau malah menjadikan kita kufur.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Wednesday, March 14, 2012

Belajar Hidup Penuh Syukur

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari kiamat. sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya.

Islam adalah agama yang luar biasa. Disamping memberikan ajaran yang mulia dan tinggi, Islam juga melahirkan generasi-generasi unik yang sulit untuk dicetak kembali. Sejarah telah menulis dengan tinta emas akan kehebatan dan keunikan-keunikannya. Sebuah ajaran yang tidak menyandarkan kemajuannya pada megahnya bangunan, indahnya istana, dan perangkat-perangkat duniawi lainnya. Tapi ajaran Islam meninggalkan manusia yang berhati mulia, berakhlaq luhur, berbudi pekerti tinggi. Islam juga mewariskan nilai bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur atas seberapa banyak kekayaannya, setampan atau secantik apa wajahnya. Tapi diukur atas ketakwaan dan kemuliaannya.


Berikut akan dipaparkan salah satu sosok sahabat nabi yang memiliki kedudukan mulia tanpa kekayaan, bermartabat tanpa harus duduk diatas singgasana yang mewah dan megah. Dia adalah Umar bin Khoththob. Ia memperoleh kemuliaan karena taqwa dan imannya. Ia memperoleh martabat justru dari kesederhanaannya. Ia dihargai dan disegani justru ketika ia meninggalkan dunia yang selalu mengejarnya.

Sederhana dalam berpakaian dan makanan

Suatu kali Umar berkata, ‘Tak ada yang halal dari harta Allah bagi Umar kecuali dua pakaian, pakaian untuk musim dingin dan pakaian untuk musim panas. Dan saya tidak pernah memakai pakaian itu untuk menunaikan haji ataupun umrah. Sedangkan makanan saya dan ke­luarga saya adalah sama dengan makanan yang ada di kalangan Quraisy dari golongan yang tidak terlalu kaya dan juga tidak terlalu miskin. Selebih­nya saya adalah salah seorang laki-Iaki dari kalangan kaum muslimin.’

Suatu ketika dua anak Umar, yaitu; Hafshoh dan Abdullah bin Umar datang menemuinya dan berkata, “Andaikata kau memakan makanan yang baik, maka hal itu akan banyak membantumu untuk melakukan kebenaran.’

Umar menjawab, ‘Apakah kalian telah sepakat dalam masalah ini?’ Mereka berkata, ‘Ya!’

Umar kemudian menimpalinya dengan berkata, ‘Saya tahu dan mengerti nasehat kalian, namun jika itu yang saya lakukan, maka sama artinya saya meninggalkan dua sahabatku dalam perjalanannya. Maka jika aku tinggalkan jalan mereka berdua (Rasulullah dan Abu Bakar), maka saya tidak akan berjumpa dengan mereka di tempat singgah (surga).’

Ikrimah bin Khalid juga berkata, ‘Suatu saat masyarakat ditimpa kelaparan yang sangat dahsyat. Maka Umar tidak makan mentega dan minyak samin.

Suatu ketika Utbah bin Farqad bertanya kepada Umar tentang makanan yang dia makan. Umar menjawab setengah mem­bentak, “Celaka kamu! Apakah saya akan memakan makanan yang baik-baik untukku di dunia ini dan berfoya-foya dengannya?”

Dalam kesempatan lain seperti yang diceritakan AI-Hasan, ia berkata: Umar bin Khaththab suatu saat datang ke rumah anaknya ‘Ashim. Saat itu ‘Ashim sedang makan daging. Lantas Umar bertanya, “Apa ini?’

‘Ashim menjawab: ‘Saya ingin sekali makan dengan daging.”

Umar berkata, ‘Apakah setiap yang kamu inginkan kau akan memakannya? Sungguh seseorang dianggap sebagai pemboros jika dia selalu menuruti apa yang dia maui!’

Anas berkata: “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ada empat tambalan di baju Umar.”

Abu Utsman an-Nahadi berkata: “Saya melihat kain yang dipakai Umar ditambal dengan kulit.”

Abdullah bin Amir berkata: “Saya pernah menunaikan haji bersama Umar. Dia tidak pernah mendirikan tenda ataupun kemah. Yang dia lakukan adalah menggelar tikar di bawah pohon lalu bernaung di bawah pohon itu.”

Apa yang dilakukan oleh Umar tersebut ia terapkan juga, terutama kepada keluarga dan pejabat pemerintah. Umar sadar bahwa fitnah dunia sangat dasyat dan berpengaruh kuat pada eksistensi seorang muslim. Apa jadinya masyarakat jika kalangan pemimpinnya justru mencontohkan kemewahan dan bermegah-megahan. Karena itu Umar sangat selektif dalam memilih pejabat-pejabat yang akan duduk dalam pemerintahannya.

Khuzaimah bin Tsabit berkata, “Jika Umar mengangkat seorang pejabat, maka dia akan menuliskan untuknya perjanjian dan dia akan mensyaratkan kepada pejabat itu untuk tidak mengendarai kuda, tidak memakan makanan dengan kualitas tinggi, tidak memakai baju yang lembut dan empuk, dan tidak pula menutup pintu rumahnya bagi orang-orang yang menghajatkan dirinya. Jika itu dilakukan, maka ia telah lepas dari sanksi.’

Disamping itu Umar juga memberi teladan dalam berhemat. Qatadah berkata: “Umar yang waktu itu sudah menjadi khalifah ­memakai jubah dari bahan wol yang ditambal dengan kulit. Dia berkeliling di pasar, dan dipundaknya ada cambuk untuk memukul orang yang bertindak curang. Suatu kali Dia melewati penggilingan yang rusak dan mendapat­i biji-bijian berserakan di tengah jalan. Umar kemudian memungutnya dan memberikan­nya ke rumah-rumah penduduk agar mereka bisa dimanfaatkan.

Seorang sahabat bernama Aslam berkata, Umar pernah berkata: “Pernah terdetik dalam hatiku untuk makan ikan yang segar. Lalu Yarfa’ (pelayan di rumah Umar) berangkat dengan kendaraannya untuk mencari ikan segar. Kemudian dia membeli ikan segar sekeranjang kecil yang terbuat dari daun kurma. Dia datang dan menemui Umar untuk menyerahkan ikan segar tersebut. Umar kemudian berkata, “Tunggu, hingga aku Iihat bagaimana kondisi binatang yang kamu tunggangi.” Kemudian Umar melihat binatang tunggangan Yarfa’ dan berkata, “Apakah kau lupa untuk menghapus keringat yang mengucur di bawah telinganya. Kau telah menyiksa binatang gara-gara kemauan Umar. Demi Allah, Umar tidak akan makan isi keranjangmu!” 

Nih cerita dari mana ya .........?

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Ingat Mati

Bagi yang masih hidup perbanyaklah mengingat mati ….. karena …… Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

Kedua, Maut kapan saja bisa menghampiri dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya, maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat lainnya.

{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}

Artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).

{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]

Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Munafiqun: 11).

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Ketiga, Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.

( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34).

Keempat, Siapa yang mati mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ الأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ مَتَى السَّاعَةُ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ فَقَالَ «إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ»

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda: “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” (HR. Muslim).

المغيرة بن شعبة رضي الله عنه: أيها الناس إنكم تقولون: القيامة، القيامة؛ فإن من مات قامت قيامته.

Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian mengucapkan: “Kiamat, kiamat…maka ketahuilah, siapa yang mati mulai saat itulah dibangkitkan kiamat dia.” (Lihat kitab Al Mustadrak ‘Ala majmu’ al Fatawa, 1/88).

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang demikian itu, karena seorang manusia jika mati, maka dia masuk ke dalam hari kiamat, oleh sebab itulah dikatakan: ‘Siapa yang mati mulailah kiamatnya, setiap apa yang ada sesudah kematian, maka sesungguhnya hal itu termasuk dari hari akhir. Jadi, alangkah dekatnya hari kiamat bagi kita, tidak ada jaraknya antara kita dengannya, melainkan ketika sesesorang mati, kemudian dia masuk ke kehidupan akhirat, tidak ada di dalamnya kecuali balasan atas amal perbuatan. Oleh sebab inilah, harus bagi kita untuk memperhatikan poin penting ini.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Kelima, Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah ketinggian frekuensi ibadah

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’.

Ad Daqqaq rahimahullah berkata,

“من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة” تذكرة القرطبي : ص 9

Artinya: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah” (Lihat kitab At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah, karya Al Qurthuby).

Keenam, Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).

Ketujuh, Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.

Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.

Artinya: “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Lihat kitab Shahih Bukhari).

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Wednesday, March 7, 2012

Bersyukur atau Mensyukuri

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam senantiasa dipanjatkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun kadang ini terus merasa kurang, merasa sedikit nikmat yang Allah beri. Allah beri kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal. Allah beri umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, semua adalah nikmat dari Allah yang luar biasa.

Syukuri yang Sedikit

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.

Kita Selalu Lalai dari 3 Nikmat

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.

Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.

Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.

Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.

Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).

Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.

Kesehatan Juga Nikmat

Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.” (Dinukil dari Fathul Bari, 11/230)

Rizki Tidak Hanya Identik dengan Uang

Andai kita dan seluruh manusia bersatu padu membuat daftar nikmat Allah, niscaya kita akan mendapati kesulitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ( إبراهيم

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Bila semua yang ada pada kita, baik yang kita sadari atau tidak, adalah rizki Allah tentu semuanya harus kita syukuri. Namun bagaimana mungkin kita dapat mensyukurinya bila ternyata mengakuinya sebagai nikmat atau rejeki saja tidak?

Saudaraku! kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama langgengnya kenikmatan pada diri anda ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Qur’an yang barangkali kita pernah mendengarnya disebutkan,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Alih-alih mensyukuri nikmat, menyadarinya saja tidak. Bahkan dalam banyak kesempatan bukan hanya tidak menyadarinya, akan tetapi malah mengingkari dan mencelanya. Betapa sering kita mencela angin, panas matahari, hujan dan berbagai nikmat Allah lainnya?

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Imam As Syafii berkata, “Segala puji hanya milik Allah yang satu saja dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali dengan menggunakan nikmat baru dari-Nya. Dengan demikian nikmat baru tersebutpun harus disyukuri kembali, dan demikianlah seterusnya.” (Ar Risalah oleh Imam As Syafii 2)

Wajar bila Allah Ta’ala menjuluki manusia dengan sebutan “sangat lalim dan banyak mengingkari nikmat, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan juga pada ayat berikut,

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ

“Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj: 66)

Artinya di sini, rizki Allah amatlah banyak dan tidak selamanya identik dengan uang. Hujan itu pun rizki, anak pun rizki dan kesehatan pun rizki dari Allah.

Surga dan Neraka pun Rizki yang Kita Minta

Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. Saba’: 4)

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 11)

Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Yang namanya bersyukur adalah dengan meninggalkan saat dan selalu taat pada Allah. Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” Mukhollad bin Al Husain mengatakan, “Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq)

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Thursday, February 23, 2012

Madinah Al Munawarah

Selama ini, kebanyakan dari kita sudah terlanjur memahami kata “madinah” sebagai sebuah nama kota di Saudi Arabia; sebuah kota bersejarah dalam peradaban Islam. Bahkan, karena kemudian kata itu digandeng dengan kata “al-munawarah” sehingga menjadi “madinah al-munawwarah” yang artinya kota yang bercahaya, maka perlahan kata “madinah” dimaknai sebagai “kota” dalam bahasa Indonesia.

Saya pernah mendengar penjelasan dari seseorang bahwa kata “madinah” punya akar kata “dien” yang selama ini diterjemahkan sebagai “agama”. kata “din” itu sendiri telah membawa makna susunan kekuasaan, struktur hukum, aturan dan atau sistem serta norma dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya “din” itu tersembunyi suatu sistem kehidupan. sehingga kemudian madinah menjadi sebuah arti kata yang bermakna lebih luas sebagai Ibukota baik negara atau provinsi , hal ini didapatkan dari penjabaran kota sebagai suatu tempat tersusunnya suatu kekuasaan yang mengatur hukum atau aturan dan sistem yang berlaku di dalam suatu negeri.

Oleh sebab itu ketika din Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Artinya, madinah merupakan tempat dilaksanakannya din atau sistem dan atau aturan suatu negara. Seperti halnya, kata “masjid”, yang berasal dari kata sujud, diberi imbuhan “ma” menjadi bermakna “tempat sujud”. Dari akar kata “din” dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.

Dari akar kata “madana” itu kemudian lahir kata benda “tamaddun” yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). 

Pilihan kata dengan terminologi “madinah” yang berarti tempat dilaksanakannya hukum Allah. bisa menjadi sangat jelas, bahwa madinah bukan semata tentang kota. dan, madinah juga pernah ada jauh sebelum Nabi Muhammad ada. Jika pun kemudian ada perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, itu karena Nabi Muhammad berkaca dari sejarah kemilau tegaknya Agama Allah oleh Nabi-Nabi terdahulu.

didalam surah Yassin, yang bercerita tentang Nabi Musa, maka anda akan menjumpai satu firman Allah : “wa ja a min aqshal madinati rajulun yas’a.…” "dan datanglah lelaki dari ujung kota”. Jelas, bahwa di masa Musa, terminologi madinah sudah ada.


Lantas apa maksud dari madinah al munawwarah pada zaman rasulullah adalah kota madinah yang bercahaya ataukah madinah dengan arti tempat dilaksanakannya hukum Allah yang bercahaya.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Mencari Ridha Allah

Mencari atau mengharap atau semata-mata demi “keridhaan Allah” adalah ungkapan jawaban yang sering kita dengar tatkala kita menanyakan tujuan dari suatu amal yang dilakukan oleh saudara kita. Jawaban itu sejatinya mencerminkan keimanan yang benar, jika memang diyakini seperti itu, terucap seperti itu, dan terwujud dalam realita amal yang selaras dengan itu jika tercermin dan terlaksana dalam kehidupan sehari - hari.

Alangkah sayangnya, jika kita hanya memahami makna pernyataan yang agung tersebut dan semata-mata hanya menjadi ucapan bibir yang lahir bukan dari pemahaman dan keyakinan. Dan ia menjadi kata-kata yang tidak bermakna karena tidak ada korelasi dengan perilaku kehidupan sehari - hari.

Hal yang sering membuat saya berpikir dan mengevaluasi kembali tentang apa yang telah saya lakukan , ketika dalam kesunyian sendiri menghisab segala ucapan dan perbuatan dan bertanya apakah yang saya lakukan selama ini benar dalam rangka menggapai ridha Allah atau tidak adalah ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang seharusnya sesuai dengan pedoman yang ada.
Terkadang saya pun kembali merenung, apakah artinya dengan mengikhlaskan tujuan karena Allah semata ?

Pernyataan bahwa keimanan yang benar adalah menjadikan Allah sebagai dzat yang satu-satunya dicintai, namun dibalik itu semua keimanan tidak menafikan adanya cinta kepada isteri, anak, atau harta benda. Keimanan yang benar adalah menempatkan cinta kepada semua itu dalam rangka mencintai Allah dan cinta kepada semua itu adalah cinta yang dilakukan melalui jalan yang telah ditunjukkan dalam ayat - ayat - Nya. Bukankah Demikian ..........? 

Keselamatan , keberkahan , karunia , rahmat , ampunan adalah hal yang ghaib, berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Apakah pada akhirnya seseorang selamat atau tidak, semua itu menjadi rahasia Allah. Jika seseorang melakukan ketaatan demi memperoleh sesuatu yang masih menjadi rahasia Allah, di mana Allah berkuasa memberikan hal itu, tentu fenomena yang demikian bukanlah sesuatu yang dimaksudkan dalam firman - Nya. 

Sesungguhnya dalam Al Quran itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al 'Ankabuut : 51

Ridha terhadap Allah berarti menerima semua ketentuan Allah terhadap manusia dan tuntutan Allah terhadap manusia. Ketentuan Allah terhadap manusia merupakan qadha dan qadar yang sudah tertulis dalam kitab Lauh Al-Mahfudz. Apa yang ‘telah’ berlaku atas manusia disebut takdir, yang mana kita diperintahkan untuk mengambil hikmahnya agar kita lebih taat kepada Allah. Dan tuntutan Allah terhadap manusia merupakan takdir syar’i (ketentuan syariat) berupa wahyu Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw untuk dipelajari, diamalkan, dan untuk ditaati.





Mencari ridha Allah bisa diartikan menerima ketentuan Allah atas diri kita. Dalam konteks terbang, berarti siap untuk selamat ataupun tidak selamat, karena semua itu adalah rahasia Allah diluar jangkauan kita. Mencari ridha Allah juga berarti menerima tuntutan Allah terhadap diri kita. Dalam konteks terbang, jika kita menghendaki keselamatan maka kita pun hendaknya banyak mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan banyak amal ketaatan. Itulah upaya maksimal yang bisa dilakukan.

Mencari ridha Allah berarti berupaya semaksimal mungkin menjalankan ketaatan kepada Allah dan menyerahkan hasil akhir ketaatan itu kepada-Nya. Tentu kita tidak bisa dengan pasti mengklaim atau menilai seseorang itu telah menempuh jalan dalam keridhaan-Nya atau tidak. Tetapi setidaknya kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah kita telah beramal semata-mata mencari ridha Allah atau tidak.


Wallahu A'lam
Continue Reading...

Wednesday, February 22, 2012

Al Quran Dan Mu'jizat

Sebagai seorang Muslim yang beriman sudah sepantasnya kita meyakini dengan tidak hanya percaya bahwa Al Quran sebagai kitab suci Islam adalah mu'jizat yang besar dan firman Allah yang tidak akan terhapus dan ternodai kesuciannya sampai akhir zaman. Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad secara ajaib dari Allah  melalui malaikat Jibril (Gabriel), sempurna salinan kata demi kata dan apa yang tertulis adalah kebenaran yang harus diyakini. Oleh karena itu ayat-ayat dari buku ini disebut sebagai ayat, yang juga berarti "tanda" dalam bahasa Arab Hal. ini diyakini bahwa Al-Qur'an seperti yang kita kenal sekarang, adalah sama seperti yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad. Al-Qur'an itu sendiri memberikan tantangan terbuka bagi siapa saja yang menyangkal asal mengklaim ilahi untuk menghasilkan teks seperti itu.

Para kritikus percaya bahwa Muhammad dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan Kristen lebih tua, dan karena itu termasuk banyak dari keajaiban dikenal dari Alkitab dalam Al Qur'an. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa Muhammad buta huruf dan tidak membaca buku atau menulis buku [Quran 29:48] dan bahwa ia tidak tahu tentang peristiwa masa lalu [Quran 03:44] [11:49] [28:44].

Keajaiban diklaim dalam Al-Qur'an dapat diklasifikasikan menjadi kategori berbeda : mukjizat ilmiah dan nubuat.
Mujizat Ilmiah

Keyakinan bahwa telah dinubuatkan dalam Alquran teori-teori ilmiah dan penemuan dizaman sekarang dan telah menjadi keyakinan yang kuat dan luas di dunia Islam kontemporer; nubuat ini sering disediakan sebagai bukti asal-usul ilahi dari Al Qur'an. Fakta-fakta ilmiah diklaim dalam Al Qur'an ada pada subyek yang berbeda, termasuk penciptaan, astronomi, reproduksi manusia, Oseanologi, embroyology, zoologi, siklus air, dan banyak lagi.

Sarjana Islam berpikir bahwa ayat ini mengacu pada fakta-fakta ilmiah dalam Al Qur'an yang akan ditemukan oleh dunia dalam zaman modern, beberapa abad setelah wahyu dan bahkan kekal sampai akhir zaman. Kepercayaan ini, bagaimanapun, diperdebatkan di dunia Muslim. Sementara sebagian percaya dan mendukungnya, beberapa cendekiawan Muslim menentang keyakinan, mengklaim bahwa Al Qur'an bukan buku ilmu pengetahuan; Para sarjana berpendapat, kemungkinan penjelasan ilmiah beberapa fenomena alam, dan menolak untuk mensubordinasikan Al Qur'an untuk ilmu yang selalu berubah.

Nubuat

Bersambung Insya Allah
Continue Reading...

Segala puji bagi Allah

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami."

Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata ",

supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.

Dan orang-orang yang berusaha untuk menentang ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu azab yang pedih.

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki manusia kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dan orang-orang kafir berkata kepada teman-temannya. "Maukah kamu kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan kembali dalam ciptaan yang baru?

Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?" 

Tidak, tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh.

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?

Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Tuhan bagi setiap hamba yang kembali kepada-Nya.

Saba' : 1 - 9
Continue Reading...

Sekiranya beriman dan bertakwa

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga-duga ? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah lenyap penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar pelajaran lagi ?

Negeri-negeri yang telah Kami binasakan itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu.

Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.

Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

Al A'raaf : 96 - 102
Continue Reading...

Monday, February 20, 2012

Ilmu Pengetahuan Islam

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan Islam mengacu pada ilmu yang dikembangkan dalam peradaban Islam antara abad ke-8 dan 16, yang dikenal sebagai Masa Keemasan Islam. juga dikenal sebagai ilmu bahasa Arab karena sebagian besar teks-teks selama periode ini ditulis dalam bahasa Arab, lingua franca peradaban Islam. Meskipun istilah-istilah ini, tidak semua ilmuwan selama periode ini adalah Muslim atau Arab, karena ada sejumlah ilmuwan non-Arab terutama Persia, serta beberapa ilmuwan non-Muslim, yang berkontribusi untuk penelitian ilmiah di dunia Islam .

Sejumlah sarjana modern menganggap ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah telah sangat terinspirasi oleh para ilmuwan Muslim yang memperkenalkan pendekatan empiris, eksperimental dan kuantitatif modern untuk penyelidikan ilmiah. Beberapa ulama terkenal menyebut prestasi mereka sebagai sebuah revolusi ilmiah Muslim, meskipun ini tidak bertentangan dengan pandangan tradisional dari Revolusi Ilmiah yang masih didukung oleh kebanyakan ahli.

Hal ini diyakini bahwa itu adalah sikap empiris dari Qur'an dan Sunnah yang terinspirasi ilmuwan Muslim abad pertengahan, di Alhazen tertentu (965-1037), untuk mengembangkan metode ilmiah. Ia juga dikenal bahwa kemajuan tertentu yang dibuat oleh para astronom Muslim abad pertengahan, ahli geografi dan matematikawan dimotivasi oleh masalah yang disajikan dalam Kitab Suci Islam, seperti pengembangan Al-Khwarizmi aljabar untuk memecahkan hukum waris Islam, dan perkembangan astronomi, geometri geografi, dan bola trigonometri untuk menentukan arah kiblat, waktu dari Salah doa, dan tanggal dalam kalender Islam.

Peningkatan penggunaan dalam kedokteran Islam selama berabad-abad dipengaruhi oleh tulisan-tulisan para teolog Islam, Al-Ghazali, yang mendorong studi tentang anatomi dan penggunaan pembedahan sebagai metode memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Tuhan. Dalam koleksi al-Bukhari dan Muslim dari hadits shahih dikatakan: "Tidak ada penyakit yang Allah telah menciptakan, kecuali bahwa Dia juga telah menciptakan pengobatannya." (HR Bukhari ). Hal ini memuncak dalam karya Ibn al-Nafis (1213-1288), yang menemukan sirkulasi paru pada 1242 dan digunakan penemuannya sebagai bukti doktrin Islam ortodoks dari kebangkitan tubuh. Ibn al-Nafis juga digunakan Kitab Suci Islam sebagai pembenaran untuk penolakannya terhadap anggur sebagai pengobatan sendiri. Kritik terhadap alkimia dan astrologi juga dimotivasi oleh agama, sebagai teolog Islam ortodoks memandang keyakinan alkemis dan astrolog sebagai takhayul.

Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), dalam menangani konsepsinya tentang fisika dan dunia fisik dalam bukunya Matalib, membahas Islam kosmologi, mengkritik gagasan Aristoteles tentang sentralitas bumi dalam alam semesta, dan "mengeksplorasi gagasan adanya multiverse dalam konteks komentarnya, "berdasarkan ayat Al-Qur'an," Segala pujian milik Allah, Tuhan semesta alam. " Dia mengangkat pertanyaan apakah istilah "dunia" dalam ayat ini mengacu pada "dunia dalam beberapa alam semesta yang tunggal atau kosmos, atau alam semesta lain atau multiverse luar alam semesta yang diketahui." Atas dasar ayat ini, ia berpendapat bahwa Tuhan telah menciptakan lebih dari seribu dunia di luar dunia ini sehingga setiap orang dari dunia-dunia menjadi lebih besar dan lebih besar dari dunia ini serta memiliki sejenisnya dari apa yang dunia ini.

Menurut banyak sejarawan, ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam berkembang selama abad pertengahan, tetapi mulai menurun pada beberapa waktu sekitar 14 sampai 16 abad. Setidaknya beberapa sarjana menyalahkan ini pada munculnya beberapa ulama yang membekukan ilmu yang sama dan kemajuan layu yang pada dasarnya tidak memberikan pengaruh apapun kepada manusia melainkan kebanyakan manusia semakin tidak percaya kepada adanya Sang Pencipta. 

Tidak dapat kita tolak dan sudah terbukti adanya bahwa ilmu pengetahuan yang sejatinya telah Allah Subhanahu Wata'ala berikan mustinya memberikan kebahagian dan ketenangan serta ketentraman dan Iman , kini malah sebaliknya semakin menjerumuskan manusia pada ke-syirikan dan kekufuran akan adanya Sang Pencipta. (bersambung Insya Allah)

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Islam Dan Science

Islam dan ilmu pengetahuan menggambarkan hubungan antara komunitas Muslim dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Dari sudut pandang Islam, ilmu pengetahuan, studi tentang alam, dianggap terkait dengan konsep Tauhid (keesaan Tuhan), seperti juga semua cabang pengetahuan lainnya.

Dalam Islam, alam tidak dilihat sebagai entitas yang terpisah, melainkan sebagai bagian integral dari pandangan holistik Islam tentang Tuhan, kemanusiaan, dan dunia. Link ini menyiratkan aspek suci untuk mengejar pengetahuan ilmiah oleh umat Islam, karena alam itu sendiri dilihat dalam Al Qur'an sebagai kumpulan tanda-tanda yang menunjuk kepada Tuhan. 

Adalah dengan pemahaman ini bahwa mengejar ilmu ditoleransi dalam peradaban Islam, khususnya selama kedelapan sampai abad keenam belas, sebelum kolonisasi dunia Muslim. keberadaan ilmu pengetahuan, sebagaimana dipahami dalam pengertian modern, berakar dalam pemikiran ilmiah dan pengetahuan yang muncul dalam Islam peradaban selama ini.

Ilmuwan Muslim dan ulama kemudian mengembangkan spektrum sudut pandang pada tempat pembelajaran ilmiah dalam konteks Islam, tidak ada yang secara universal diterima. Namun, sebagian mempertahankan pandangan bahwa akuisisi mengejar pengetahuan dan ilmiah pada umumnya adalah tidak menyelisihkan dengan pemikiran Islam dan keyakinan agama. 

Agama Islam memiliki sistem sendiri terhadap pandangan dunia termasuk keyakinan tentang "realitas terakhir, epistemologi, ontologi, etika, tujuan, dll" Setiap Muslim harus percaya dan yaqin bahwa Al Qur'an adalah wahyu terakhir Allah untuk membimbing manusia.

mengejar pengetahuan dan pemahaman tentang alam dunia dan kegiatan sosial mengikuti metodologi sistematis berdasarkan bukti. Ini adalah sebuah sistem memperoleh pengetahuan berdasarkan empirisme, eksperimentasi, dan naturalisme metodologis, serta tubuh yang terorganisasi manusia telah mendapatkan pengetahuan dengan penelitian tersebut.

Para ilmuwan berpendapat bahwa penelitian ilmiah harus sesuai dengan metode ilmiah, sebuah proses untuk mengevaluasi pengetahuan empiris yang menjelaskan peristiwa yang dapat diamati di alam sebagai hasil dari sebab-sebab alamiah, menolak gagasan supranatural. Islam, seperti semua agama, percaya pada supranatural yang dapat diakses atau berinteraksi dengan manusia dalam kehidupan ini.

Salah satu fitur yang paling penting dari Ilmu adalah prediksi kuantitatif yang tepat dalam aspek ini hal itu berbeda dari teks-teks agama di mana fenomena fisik digambarkan dalam cara yang sangat kualitatif, seringkali dengan penggunaan kata-kata yang membawa beberapa makna. (Bersambung InSya Allah)

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Bapak Penjual Keliling

Bapak tua yang usianya lebih dari 50 tahun ini, kira-kira usianya sekarang sepertinya menginjak 70 Tahun, yang dengan dagangan makanan anak-anak (snack)  Miris memang lihat sibapak yang dengan usianya itu cukup berat menjajakan barang dagangannya.

Bapak Fulan, anggap saja nama beliau begitu dari penampilan fisiknya memang bapak dan anak ini, bagi saya memprihatinkan, baju lusuh , celana lusuh dan kopiah hitam yang sudah berganti warna agak kekuning kuningan itu selalu menghiasi kepalanya.

Sehabis shalat subuh beliau sudah sampai di rumah , dengan tongkat kayu di bahu yang biasa dipakai untuk memanggul barang dagangan yang mau dijajakannya keliling keluar masuk perkampungan dan sekolahan , Berbeda dengan anak muda / para pedagang / salesman masa kini yang berjualan dengan menggunakan motor agar bisa menjangkau konsumen lebih banyak dan lebih jauh bapak fulan menjajakan barang dagangannya hanya dengan berjalan kaki sambil memanggul barang dagangannya.

Dari jauh saya memperhatikan sebuah pemandangan yang luar biasa. Pemandangan yang jarang sekali terjadi di zaman sekarang ini, zaman yang sudah tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, halal dan haram kini sudah menjadi potret buram, idealisme hanya menjadi sebuah wacana dan perbincangan para politikus yang ingin berebut kursi pemerintahan. 

Disaat anak - anak muda , remaja , mahasiswa dan orang - orang pintar berjibaku dengan segala keinginan dan kemewahan serta bermegah megahan , masih ada yang seseorang yang mengajarkan kepada kita untuk menggunakan karunia Ilahi yang diberikan kepada mahkluk-Nya, dan tidak mengindahkan berhala - berhala baru buatan manusia yang kebanyakan orang menganggapnya sebagai kemajuan dan perbaikan namun pada hakekatnya itu adalah kerusakan.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Amar ma'ruf nahi munkar

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman 17]

Jika kita tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah akan menyiksa kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita :

Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Zar) [1]

Amar Ma'ruf Nahi Munkar dilakukan sesuai kemampuan. Yaitu dengan tangan/kekuasaan jika dia adalah penguasa / punya jabatan. Dengan lisan / tulisan jika dia adalah jurnalis atau intelektual. Atau minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada. Ini adalah selemah-lemah iman (Hadits). Pelaku amar ma’ruf nahi munkar hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat terpuji dan akhlak mulia. Di antara sifat pelaku amar ma’ruf nahi munkar yang terpenting adalah :

Ikhlash

Hendaklah seorang pelaku amar ma’ruf nahi munkar manjadikan tujuannya keridhaan Allah semata, tidak mengharapkan balasan dan syukur dari orang lain. Demikianlah yang dilakukan para Nabi, Allah berfirman:

وَمَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (QS.Asy-Syu’araa` 26:145)

وَمآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينََ

Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syu’araa`26:127)

وَمَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syu’araa` 26:109)

“Apabila amar ma’ruf nahi munkar tersebut mencakup hal yang mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudhorotan, maka harus dilihat penentangnya. Jika yang hilang dari kemaslahatan atau mafsadat yang datang lebih besar, mak dia tidak diperintahkan. Bahkan menjadi haram, bilamana mafsadatnya lebih besar dari kemaslahatannya. Akan tetapi standar ukuran maslahat dan mafsadatnya adalah syari’at.”

Orang yang ingin amar ma’ruf nahi munkar baik dengan lisannya, atau dengan tangannya begitu saja tanpa fiqih, hilm, kesabaran, tidak memandang apa yang maslahat dan yang tidak maslahat dan tidak mengukur mana yang mampu dan yang tidak dimampui Lalu melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan keyakinan mentaati Allah dan RasulNya, namun hakikatnya dia telah melanggar batasan-batasan Allah Ta’ala

Jika kemaslahatan lebih besar dari mafsadatnya, maka disyari’atkan beramar ma’ruf nahi munkar. Jika amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban yang agung atau sunnah, maka mesti kemaslahatan yang ada padanya lebih besar dari mafsadatnya, karena demikianlah para rasul diutus dan kitab-kitab suci diturunkan. Sedangkan Allah Ta’ala tidak menyukai kerusakan, bahkan seluruh perintahNya adalah kebaikan. Dia memuji kebaikan dan pelakunya serta orang yang beriman dan beramal sholih. Diapun mencela kerusakan dan orang yang melakukan kerusakan dalam banyak ayat di Al Qur’an.

Jika mafsadat lebih besar dari kemaslahatannya, maka diharamkan beramar ma’ruf nahi munkar, karena menolak mafsadat lebih didahulukan dari mendapat kemaslahatan. Apabila amar ma’ruf nahi munkar tersebut mencakup hal yang mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudhorotan, maka harus dilihat penentangnya. Jika yang hilang dari kemaslahatan atau mafsadat yang datang lebih besar, maka dia tidak diperintahkan. Bahkan menjadi haram, bilamana mafsadatnya lebih besar dari kemaslahatannya. Akan tetapi standar ukuran maslahat dan mafsadatnya adalah syari’at. Kapan saja seseorang sanggup melaksanakan apa yang diperintahkan syari’at, maka jangan berpaling darinya. Jika tidak, maka hendaklah ia berijtihad untuk mengetahui yang serupa dan sama, dan sedikit sekali orang yang pakar terhadap nash-nash dan penunjukannya terhadap hukum tidak menemukannya.

Jika ajakan melakukan ketaatan mendatangkan kemaksiatan yang lebih besar, maka ditinggalkan ajakan tersebut untuk menolak adanya kemaksiatan itu. Seorang alim dalam bayan dan balagh , terkadang mengakhirkan bayan dan balaghnya karena sesuatu sampai pada waktu yang pas, sebagaimana Allah Ta’ala mengakhirkan turunnya Ayat dan penjelasan hukum sampai waktu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menjelaskannya.

Jika mafsadat dan maslahat sama besarnya, tidak disyariatkan amar ma’ruf nahi munkar, karena tujuan dari pensyari’atan hukum-hukum adalah untuk menolak mafsadat dan mendapatkan maslahat bagi manusia. Jika perkara ma’ruf dan munkar sama dominant dan tak terpisah, maka amar ma’ruf nahi munkar tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Terkadang amar ma’ruflah yang harus dilakukan dan terkadang nahi munkarlah yang harus dilakukan atau terkadang kedua-duanya tidak dilaksanakan, karena kema’rufan dan kemunkaran tidak terpisahkan.

Barang siapa yang meneliti fitnah yang besar atau kecil yang terjadi dalam Islam, akan melihat hal itu disebabkan karena melalaikan pokok kaedah ini dan tidak sabar dalam (mengingkari) kemunkaran. Menuntut hilangnya kemunkaran, akan tetapi lahir darinya kemunkaran yang lebih besar. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melihat di Makkah satu kemunkaran besar dan tidak dapat merubahnya, bahkan ketika Allah taklukan Makkah dan menjadi negeri Islam, beliau bertekad untuk merubah Ka’bah dan mengembalikannya sesuai dasar bangunan Nabi Ibrohim. Akan tetapi tercegah -walaupun beliau mampu- kekhawatiran munculnya sesuatu yang lebih besar dari itu, berupa tantangan Quraisy, karena mereka baru masuk Islam dan meninggalkan kekufuran. Oleh karena itu tidak diizinkan mengingkari para penguasa dengan tangan, karena akan menghasilkan kemunculan sesuatu yang lebih besar darinya.”

Hendaknya pelaku amar ma’ruf nahi munkar mengenal dan mengetahui kaidah Saddudz dzara’I menahan sesuatu yang dapat mengantar kepada kemunkaran. Sebagaimana digunakan Allah Ta’ala dalam firmanNya:

وَلاَتَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلٍّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ 

إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jaidkan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb mereka kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. 6:108)

Demikian juga Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan hal itu dalam hadits :

عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا أَوْ قَالَ شَيْئًا

Dari Shofiyah binti Huyaiy, beliau berkata:”Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku datang menziarahinya pada satu malam. Saya berbicara kepada beliau, lalu bangkit untuk pulang. Kamudian beliau bangkit untuk mengantarkanku, lalu lewatlah dua orang anshor. Ketika beliau melihat keduanya mempercepat jalan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Perlahanlah kalian, sesungguhnya dia adalah Shofiyah binti Huyaiy.” Lalu keduanya berkata: “Subhanallah, wahai Rasululloh.” Beliau berkata: ” sesungguhnya Syeithon masuk ke dalam manusia melalui aliran darah dan aku khawatir dia memasukkan kejelekan ke dalam hati kalian berdua.”. (Riwayat al-Bukhori dan Muslim).

Karena kebanyakan pelaku amar ma’ruf nahi munkar terkadang melampaui batasan, adakalanya karena kebodohan dan kadang karena kedzoliman. Permasalahan ini harus dilakukan dengan ketelitian, baik dalam mengingkari kemunkaran terhadap orang kafir, munafik, fasik atau orang yang bermaksiat.”

Kemudian dia berkata lagi :

Hendaklah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar mengikuti tuntunan syari’at, dari ilmu, rifq, kesabaran, niat yang ikhlas dan mengikuti jalan yang lurus. Hendaklah menjadi teladan bagi orang lain, karena pengaruh mencontoh dan meniru cukup besar dalam diri orang yang didakwahi. Oleh karena itu Allah Ta’ala jadikan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam contoh teladan terbaik agar manusia mencontoh seluruh perbuatan dan perkataannya. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)

Sehingga seorang pelaku amar ma’ruf nahi munkar hendaklah merasa bahwa Islam memerintahkannya mengikuti teladan yang baik, teladan para Rasul, orang sholeh dan mulia. Hendaklah dia menjadi salah satu dari mereka tersebut, agar menjadi contoh teladan dalam perkataan dan perbuatan yang baik. Imam Al Hasan Al Bashriy berkata: “Penasehat adalah orang yang menasehati manusia dengan amalannya, bukan ucapannya. Demikianlah keadaan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika ingin memerintahkan sesuatu, beliau mulai dari dirinya dan berbuat. Jika ingin melarang sesuatu, beliau berhenti darinya. Jangan sampai menjadi contoh jelek dalam masyarakat, sehingga termasuk orang yang dicela oleh Allah dalam firmanNya:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir (QS. Al-Baqarah 2:44)

dan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ
 
بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ

 وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

Didatangkan pada hari kiamat seorang, lalu dilemparkan ke neraka, sehingga usus-ususnya keluar di neraka, lalu dia berputar seperti berputarnya keledai di batu gilingannya. Ahli neraka berkumpul mengelilinginya, mereka berkata: “Wahai fulan, kenapa kamu ini? Bukankah dulu engkau beramar ma’ruf nahi munkar?” dia menjawab: “Saya dulu beramar ma’ruf dan saya tidak melaksanakannya dan mencegah kemunkaran dan saya melakukannya”. (Riwayat al-Bukhori dan Muslim ).

Dengan demikian pelaku amar ma’ruf nahi munkar harus menjadi teladan baik dalam masyarakatnya. Tentunya hal ini tidak lepas dari taufiq Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian tarbiyah yang shohih.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Sunday, February 12, 2012

Berlomba - Lomba Berbuat Kebajikan

الدني مزرعة الآخرة
"Dunia Adalah Ladang Akhirat"

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam semesta, Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada penghulunya orang-orang yang zuhud dan imamnya para ahli ibadah. Amma ba’du :

Sesungguhnya dunia adalah negeri persinggahan bukan negeri untuk menetap, dunia adalah tempat yang penuh dengan duka cita bukan tempat tinggal untuk bersuka cita. Maka sepatutnya bagi seorang mukmin menjadikan dunia sebagai bagian perjalanan, mempersiapkan bekal dan hartanya untuk menuju ke perjalanan yang pasti. (ke akhirat)

Maka merupakan kebahagiaan bagi siapa yang menjadikan perjalanan ini bekal yang akan menyampaikannya ke keridhaan Allah Ta’ala, yang menghantarkannya kepada ganjaran surga-Nya dan kepada keselamatan dari neraka-Nya.

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. Al Maa'idah : 48

Jalan terang tersebut bagi Ummat Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah jalan yang dilalui (sunnah) Rasulullah صلي الله عليه وسلم, Sahabatnya dan semua yang mengikuti mereka hingga akhir zaman, inilah yang dikatakan Ahlus Sunnah yaitu orang yang mengamalkan sunah Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan berkumpul di dalamnya dengan beribadah kepada Allah baik dalam masalah aqidah (keyakinan), perkataan, perbuatan, dan panutannya adalah Shalafusshalih dari sahabat, tabiin dan pengikut tabiin.

Untuk menjadi bagian dari Ahlus Sunnah kita wajib meniti jalan terang yang telah dilalui oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya رضي الله عنهم, bukankah kita selalu berdo’a disetiap shalat ‘Tunjukilah kami-ya Allah- jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS: Al-Fatihah:6-7), inilah bahasan tentang jalan tersebut dan semoga bermanfaat bagi kita semua, 

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa" Al Baqarah : 177

Dalam Surah Al Maidah ayat 48 diatas dapat kita ambil satu point di antara beberapa perintah Allah Subhanahu Wata'ala yakni dianjurkannya kita untuk ber- fastabiqul khairat. bersegera dalam melakukan kebaikan, dan dorongan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik agar segera melakukannya dengan penuh kesungguhan tanpa ragu sedikitpun. sedangkan dalam surah Al Baqarah 177 terdapat beberapa penjelasan tentang pokok - pokok kebajikan. 

Melakukan kebaikan adalah hal yang tidak bisa ditunda atau ditinggalkan  melainkan harus dikerjakan. Sebab kesempatan hidup sangat terbatas. Kematian bisa saja datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Karena itu selagi masih ada kehidupan, segeralah berbuat baik. Lebih dari itu bahwa kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Karenanya begitu ada kesempatan untuk kebaikan, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan. Karena itu Allah swt. dalam Al Qur’an selalu menggunakan istilah bersegeralah, seperti fastabiquu atau wa saari’uu yang maksudnya sama, bergegas dengan segera, jangan ditunda-tunda lagi untuk berbuat baik atau memohon ampunan Allah Subhanahu Wata'ala.

Untuk berbuat baik hendaknya selalu saling mendorong dan saling tolong menolong. Kita harus membangun lingkungan yang baik karena dari lingkungan juga berpengaruh bagi kita untuk berbuat kebaikan. tidak sedikit memang seorang yang tadinya baik menjadi rusak karena lingkungan. kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan yang dalam tidak mungkin kebaikan dicapai oleh seseorang yang setengah hati dalam mengerjakannya. Rasulullah SAW bersabda untuk mendorong segera beramal sebelum datangnya fitnah, di mana ketika fitnah itu tiba, seseorang tidak akan pernah bisa berbuat baik. Sebab boleh jadi pada saat itu seseorang dipagi harinya masih beriman, tetapi pada sore harinya tiba-tiba menjadi kafir. Atau sebaliknya pada sore harinya masih beriman tetapi pada pagi harinya tiba-tiba menjadi kafir.





Melalui usaha maupun pekerjaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, doa, sabar , ikhlas , ridha dan tawakal sebagai sandarannya serta selalu saling berkompetisi didalam berbuat kebaikan dsb, adalah satu kendaraan yang paling tepat dan efektif untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan kehidupan negeri akhirat yang abadi.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Saturday, February 11, 2012

Menjalani Kehidupan Dunia

Kehidupan ibarat gelombang kadang bahagia kadang sedih maka, marilah kita senantiasa bersyukur dalam mengapai dunia dan isinya. Supaya hidup kita tidak goyah dalam menghadapi semua cobaan yang ada di dunia ini, karena ada yang mengatakan dunia dan isinya adalah pana, jangan banga dengan harta kita punya, jangan besar kepala dengan jabatan, semua itu hanya anugrah Allah dan sewaktu-waktu Allah bisa memintanya…!!!

1. Memahami tujuan hidup

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, semua aktifitas kehidupan kita di dunia ini dalam rangka beribadah kepada Allah. ” Wamaa khalaqtul jinna wal insaa illa liya’ buduun..”ibaratnya seseorang itu keluar dari rumah mau pergi kemana, bila ada tujuannya ketika ia ditanya, bisa menjawab. misalnya mau ke toko beli susu. Kalau ia keluar rumah tanpa tujuan, ketika ditanya, ia akan bingung…” kemana..ya..?” jadi tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala.

2. Memahami nilai dunia dan nilai akhirat

Ada beberapa tipe orang dalam memandang nilai dunia dan nilai akhirat, antara lain:

a. Mengejar Dunia saja ( Nilai dunia lebih dari akhirat). Mungkin ini fenomena kehidupan orang kebanyakan, yang sudah hampir meninggalkan agama dan banyak yang tidak beragama. Hanya mengejar kesuksesan duniawi saja dan sudah tidak percaya dengan kehidupan akhirat nanti. Kadang uang dipandangnya sebagai tuhan.

b. Mengejar Akhirat saja. Sebagai contoh Sufi jaman dulu, sehari hari hanya untuk beribadah/hablu minallah, padahal manusia dituntut untuk hablu minannas, dan manusia harus memenuhi kebutuhan kemanusiaannya, seperti makan ,minum , bekerja, menikah, berkeluarga, bermasyarakat dan lain sebagainya. Rasulullah bahkan melarang sahabatnya yang puasa tidak berbuka, qiyamul lail tidak tidur dan membujang tidak menikah. Rasulullah utusan Allah yang sudah pasti dijamin masuk surga pun melakukan hal yang bersifat kemanusiaan.

c. Tidak mengejar dunia maupun harapan akhirat. Orang yang tipe seperti ini sangatlah tidak beruntung. didunia sengsara, akhirat pun terlupakan. Masih banyak tipe seperti ini di tanah air kita, yang data penduduknya terbanyak beragama islam. Adalah orang miskin yang kufur. Ia tetap dalam belenggu kemiskinan tapi tidak berusaha memperbaiki ibadahnya, tapi berteman dengan kekufuran.

d. Memandang dunia sebagai ladang amal dan akhirat sebagai tempat menuai hasil. Orang yang hidup di dunianya selalu beramal kebajikan, menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Jadi untuk hidup tenang di dunia kita fahami bahwa dunia adalah ladang amal, dan di akhirat nanti kita akan menuai hasil.

3. Syukur dan Sabar.

Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada kita, insyaAllah akan Allah tambahkan selalu kenikmatan. ” lain syakartum la aziidanakum wa la inkafartum inna adza bi lasyadid “

Kita bersyukur dengan yang ada pada kita, jangan berkeluh kesah dengan yang tidak ada pada kita. Misalnya kita kurang dari segi ekonomi, anak 3 tapi kendaraan hanya sepeda motor, tiba-tiba bertemu dengan kawan lama yang datang berkendaraan mobil kijang, tapi belum dikaruniai keturunan. Maukah satu anak ditukar dengan mobil kijang…??

Dan sabar adalah satu hal yang sangat mudah diucapkan dan dinasihatkan tetapi sangat sulit dilakukan. contoh: orang yang tertimpa musibah, pastilah harus bersabar dan selalu mendapatkan nasihat dari orang-orang disekelilingnya agar bersabar. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar. Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar.

4, Tawakal sesudah Ikhtiar

Al Qur’an. Surah Al Maidah : 23, Orang yang beriman itu harus bertawakal kepada Allah, setelah ia berikhtiar/berusaha. Tidak membenci Allah bila usaha kita( apa yg kita kerjakan/lakukan/usahakan) hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita.

5. Memahami takdir dengan benar

Memahami takdir itu bukan hanya pasrah dan menyerah tanpa usaha. Jaman dahulau khalifah Umar bin Khaththab, pernah kan memasuki sebuah kampung dan melihat ada ‘endemi’ (penyakit menular) kemudian mengurungkan niatnya untuk masuk ke kampung tersebut. Umar mendapat kritikan dari seseorang bahwa umar tidak boleh lari dari takdir. Kata Umar, “Aku lari dari takdir ke takdir yang lain”

6. Menjaga keseimbangan, antara ruhani, akal dan jasmani.

Tawazun ( keseimbangan) baik manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, yang ada dalam diri manusia itu ada 3 unsur adalah jasad, akal dan ruh. Dimana 3 unsur ini harus diberi asupan yang seimbang. Jasad diberi makan yang halal dan baik. Akal selalu diasah dengan ilmu dan pengetahuan. Ruh pun harus senantiasa disiram agar senantiasa bersinar cemerlang, hati yang selalu bisa menerima kebenaran yang datang dari Allah Subhanawata’ala.

7. Pandangan terhadap harta

Dalam islam harta adalah milik Allah. Harta bukan hanya untuk hidup tapi juga sebagai alat untuk beribadah kepada Allah. Ada nasihat, “peganglah harta dengan tanganmu, jangan kau masukkan harta di hatimu”. Ketahuilah nanti di akhirat manusia akan ditanya, dari manakah hartanya didapatkan dan untuk apakah hartanya dibelanjakan.

Semoga bermanfaat buat pribadiku dan siapa saja yang membaca tulisan ini.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠

“Wahai jiwa yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan di ridhai Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba Ku. Dan masuklah ke dalam surga Ku” Quran Surah Al Fajr: 27-30
Continue Reading...

Tips Sederhana Untuk Mengatasi Depresi

Banyak orang bangun setiap hari merasa seperti hidup dalam kejenuhan , kegaduhan, kebingungan, dan permasalahan hidup yang tak kunjung selesai, seperti tidak ada lagi jalan yang pernah akan bisa untuk menempuh arah menjadi lebih baik seperti yang diharapkan. berikut tips sederhana yang mungkin dapat membantu anda berhenti merasa tidak bahagia dan membantu melihat hal-hal dengan cara yang positif dan menaklukkan depresi. Jika Anda berpikir Anda mungkin memiliki masalah kesehatan mental yang serius , jangan ragu juga untuk berkonsultasi ke ahlinya baik medis maupun spiritual.

1. Pelajari Apa Siklus Emosional yang anda miliki

Jika Anda memahami pola emosi positif dan negatif, dapat membantu untuk menempatkan perasaan Anda dalam berbagai perspektif. Sepanjang hidup, anda akan merasa tenang , tentram dan bahagia dalam beberapa hari, tapi kemudian mengalami hari-hari yang mengerikan dikesempatan lain. Hidup itu seperti naik roller coaster emosional. Pelajari bahwa semua emosi yang anda alami pada akhirnya sama seperti yang positif perasaan negatif akan berlalu dan meninggalkan anda di antara keduanya. Jika perasaan anda benar-benar turun dan depresi, ingatlah bahwa hal itu hanya sementara dan setiap orang akan mengalaminya karena memang dibuat demikian adanya dan itulah ujian dalam kehidupan dunia. (al ayat)

2. Kelilingi Diri Anda Dengan Orang-orang Positif

Tidak ada yang membuat anda merasa negatif lebih dari sekitar diri anda dengan orang negatif lainnya. Kita semua telah mendengar ungkapan 'kemiripan menarik kemiripan. Semua perasaan yang menular. Jika orang yang anda menghabiskan waktu bersama adalah negatif minded, selalu mengeluh tentang betapa buruknya kehidupan namun tidak pernah melakukan apa-apa. Maka lebih besar kemungkinannya akan menular pada Anda. Luangkan waktu dengan beberapa orang yang berpikir positif dan melihat efeknya terhadap kerangka pikiran anda.

3. Kenali kegiatan Rutin Anda

Berpartisipasi dalam rutinitas yang sama setiap hari bisa sangat membosankan dan menyedihkan. Coba sesuatu yang baru untuk membut beberapa hal yang menggembirakan dalam hidup anda. Campur rutinitas Anda sedikit. Jangan terjebak dalam lubang yang sama setiap hari sembari mengambil bentuk baru dari latihan atau pergi mencari / melakukan kegiatan / hobi baru. Buka pikiran anda untuk pengalaman baru dan melihat efek positif yang kemudian akan mempengaruhi pikiran anda.

4. Jelajahi Keajaiban Dari Alam

Bertamasya / jalan - jalan melihat keindahan alam akan sedikit menghilangkan kejenuhan daripada duduk merenung dan menjadi depresi. melihat pekarangan , rerumputan dan kegiatan hewan kecil disekitar kita akan memberikan pengetahuan dan pengalaman baru serta mencerahkan pikiran stress dan atau depresi. Kita sebagai manusia dizaman ini telah banyak terjebak dengan begitu banyak kepentingan dan hal hal kecil yang tidak signifikan serta bermanfaat hanya sebatas kehidupan sementara saja. cobalah elajar untuk hidup di saat ini dengan mengamati keajaiban alam karena mereka akan  membantu setidaknya untuk melupakan masalah anda sementara.

Cobalah gabungan 4 tips sederhana dalam kehidupan sehari-hari Anda dan melihat efek itu pada perasaan Anda. Belajar untuk hidup di saat ini dan selamanya untuk  menjadi bahagia dengan tidak ada kekhawatiran dan tidak pula bersedih hati.
Continue Reading...

Pesan Pesan Al quran

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an tentang tujuan hidup Nasehat ini untuk semuanya .......... khususnya diri saya pribadi , serta pengingat untuk mereka yang sudah memiliki arah maupun Untuk mereka yang belum memiliki arah. dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.. Semua yang menginginkan kebaikan.

Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci........... ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena
kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan.....
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan..... Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun...... jika cinta engkau jadikan sbg landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan......
Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat.......
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan......
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu".....
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan
sorban, karena sang istri tercinta tdk mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar........
Menjahit bajunya yang robek........

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu".....
Disayang, dimanja dan dilayani suami......
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu....
Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu......
Jika itu engkau lakukan akan celaka....
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena
menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu.....
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya......
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth.....
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.....
Istrimu bisa menjadi musuhmu....

Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagaiKhadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang
suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....

Istrimu adalah tanggung jawabmu....
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah.....
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah...
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam....
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah......
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan..... Kecintaannya terhadapmu akan
memaksanya menjadi pendurhaka...... jangan..........

Jika engkau menjadi Bapak......
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........
Ajaklah mereka taat kepada Allah.......
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah..........
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Jika engkau menjadi ibu....
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh....
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....
Jadikanlah mereka mujahid.........
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....

Amin....
Continue Reading...

Friday, February 10, 2012

Mencapai Tujuan Hidup

Hidup bukan cari kepuasan tapi cari ketenangan

Semua orang di dunia ini pasti mempunyai mimpi dan cita-cita dalam hidupnya. Tak peduli apa pun yang dikerjakan oleh seseorang, impian dan cita-cita adalah tujuan utama. Bisa jadi itu soal mengurangi berat badan atau dalam karier. Dan langkah pertama meraih sukses adalah menetapkan tujuan yang jelas. Banyak orang mengerjakan sesuatu tapi tak mendapat keberhasilan hanya karena tujuan yang kurang jelas. Banyak orang tak merancang tujuan karena mereka bahkan tak punya gagasan dari mana harus memulainya.

Jika Anda ingin merancang tujuan, anda mesti meluangkan waktu untuk membangun impian. Jika anda tak punya impian, akan sulit untuk menentukan tujuan dalam hidup anda. Sayangnya, kebanyakan orang jadi kehilangan kemampuan untuk bermimpi tentang apa yang paling diinginkan dan membangun motivasi untuk pencapaian. Jadi, untuk memulainya, luangkan waktu untuk bermimpi tentang apa yang paling anda inginkan seperti apa, atau bahkan tentang apa yang ingin anda miliki. Begitu anda menemukan impian selanjutnya jalakan.

Setelah anda menjalankan setiap langkah dalam menempuh impian anda, baca sekali lagi apa yang telah anda lakukan. Saat membacanya kembali, berhentilah pada tiap-tiap lagkah dan tanyakan ‘kenapa Anda melakukan hal itu dan apa artinya serta bagaimana hasil akhirnya ?’. Jika Anda tak dapat menjawabnya dalam beberapa kalimat, kemungkinan itu bukan hal yang benar-benar anda impikan, dan akhirnya harus anda coret dari daftar tujuan dari setiap langkah anda dalam meraih impian dan cita cita.

Benarkan Ini Tujuan Anda?

Banyak orang yang sebenarnya punya impian yang dibentuk oleh orang lain. Jadi penting untuk menemukan apa benar apa yang ingin anda capai adalah tujuan anda atau tujuan orang lain. Saat merancang tujuan, jika ternyata impian dan tujuan itu bukan yang anda inginkan, coret saja dari daftar tujuan dan langkah hidup anda.
Temukan Bagaimana Tujuan Ini Akan Mempengaruhi Kehidupan Anda

Setelah anda membuat daftar yang benar tentang impian anda, lihat kembali apa yang tertinggal. Masukkan impian yang tertinggal ini ke dalam daftar dan pikirkan bagaimana ini akan membawa pengaruh dalam hidup anda. Apakah mencapai tujuan ini akan membuat anda lebih bahagia daripada sekarang ? Akankah memperbaiki rasa aman dan hubungan anda dengan orang lain? Apa akan berpengaruh pada keuangan anda secara positif? Jika ternyata impian ini tak membawa pengaruh positif dalam kehidupan anda, mungkin seharusnya dikesampingkan. Jika anda menemukan pencapaian anda akan membawa pengaruh positif dalam kehidupan anda, sebaiknya memiliki motivasi untuk mengejar dan mencapai semua tujuan ini.

Persempit lagi daftar untuk menemukan tujuan sejati, bukan hanya keinginan atau angan-angan anda. Pada titik ini anda perlu mengkategorikan tujuan ke dalam berbagai golongan, tergantung dari seberapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mencapainya. anda akan memiliki tujuan jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mencapainya, tujuan jangka pendek yang butuh waktu sebulan atau lebih untuk meraihnya, dan tujuan yang bisa tercapai sewaktu-waktu dari jangka waktu sebulan hingga setahun. Tapi ingat, anda harus punya tujuan besar, dan pastikan memiliki tujuan dalam setiap kategori sehingga bisa secara terus-menerus berupaya meraih tujuan itu dalam kehidupan Anda.

Setelah Anda membangun tujuan, kini anda perlu membuat rencana bagaimana akan mencapainya. anda harus selalu berusaha mewujudkan tujuan anda, bahkan jika itu hanya butuh sebuah langkah kecil untuk mencapainya. Pastikan tidak berlebihan dalam mengupayakan mewujudkannya. Sesekali dibutuhkan manajemen dan motivasi sebagai bagian rencana anda dan untuk melengkapi tugas ini, tapi itu pasti akan jadi usaha yang berharga. Buat grafik pencapaian untuk membantu anda mencapai tujuan, dan saat anda sudah mencapainya beri tanda dalam grafik tersebut.

Kelihatannya begitu mudah untuk melaksanakan semua tips di atas, tapi yang terpenting dari segalanya hanya tindakan yang akan membawa hasil buat kita.

Selamat Mencoba!
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info

?>

Text

Dunia Islam Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template