Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts
Showing posts with label Kabar Berita. Show all posts

Monday, March 12, 2012

Menyeru Beribadah Kepada Allah

Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu—(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku—Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (QS. Nuh 2-3)



Nuh ‘alaihis salam juga berkata: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun—Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-11)

Dari beberapa ayat di atas terdapat beberapa pelajaran, di antaranya:

Pertama, dakwah para nabi ushul (asas )nya adalah sama yaitu Tauhid (menyeru beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain-Nya), meskipun syari’atnya berbeda-beda.

Kedua, dalam berdakwah, para nabi mengedepankan Al Ahamm fal ahamm (yang lebih terpenting di antara yang penting) yaitu Tauhid sebelum yang lain.

Ketiga, sabar adalah senjata para nabi dalam menghadapi sikap kaumnya yang semakin hari bertambah jauh dan lari. Perhatikanlah kata-kata Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika mengadu kepada Allah Jalla wa ‘Alaa tentang keadaan kaumnya:

Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)—Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS. Nuh: 6-7)

Akan tetapi Nabi Nuh ‘alaihis salam tetap bersabar dalam dakwah yang ditekuninya selama 950 tahun dan pengikut yang hanya berjumlah sedikit.

Keempat, dengan istighfar dan taubat, Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan memberikan banyak rezeki kepada kita. Ibnu Abbas berkata tentang tafsir ayat “membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.”

“Jika kalian mau bertaubat kepada Allah dan menaati-Nya, maka Alllah akan memperbanyak rezeki, menurunkan hujan dari langit karena ia (langit) diberkahi dan menumbuhkan tanaman-tanaman karena bumi diberkahi”.

Kunci-kunci Rezeki

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa istighfar dan taubat adalah salah satu di antara kunci rezeki. Tetapi jangan sampai tujuan utama dari beristighfar dan bertaubat adalah agar mendapatkan rezeki, karena akan menodai keikhlasan. Kalau seseorang niatnya seimbang antara agar diberikan ganjaran ukhrawi dan ganjaran duniawi maka hanya akan mengurangi pahala keikhlasan. Tetapi, jika yang lebih besar

niatnya adalah agar mendapatkan ganjaran duniawi, maka ia bisa tidak memperoleh ganjaran ukhrawi, bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada dosa. Sebab ia telah menjadikan ibadah yang semestinya karena Allah, malah dijadikan sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya. Selain istighfar dan taubat, yang termasuk ke dalam kunci rezeki juga adalah:

Takwa (menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).

Allah berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi)—Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq: 2-3).

Sehingga, secara umum taqwa adalah salah satu pintu rezeki, sebaliknya maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya rezeki. 

Tawakkal kepada Allah.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3) Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hadits hasan shahih.”)Perlu diketahui bahwa Tawakkal itu tidaklah seperti yang dipahami oleh orang-orang yang jahil (tidak mengerti) terhadap Islam, yang mengartikan tawakkal adalah membuang jauh-jauh sebab dan tidak beramal serta ridha dan rela terhadap kerendahan. Bahkan tidak demikian. Tawakkal adalah sebuah ketaatan kepada Allah dengan menjalankan sebab.

Oleh karena itu, seseorang tidaklah berharap untuk memperoleh sesuatu kecuali menjalankan sebab-sebabnya. Adapun tercapai atau tidaknya dia serahkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala sambil berharap semoga yang dicita-citakannya tercapai, karena hanya Dia-lah yang mampu mendatangkan hasilnya. Betapa banyak orang yang menjalankan sebab, namun ternyata tidak memperoleh hasil apa-apa.

Menyempatkan diri untuk beribadah

Misalnya mengerjakan amalan sunat setelah amalan yang wajib. Baik yang berupa ibadah lisan seperti dzikr, membaca Al Qur’an dan mengajarkannya, dsb. maupun yang berupa perbuatan seperti shalat-shalat sunah dsb.

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Berhajji dan berumrah

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sertakanlah hajji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa. Sebagaimana kir menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Haji yang mabrur tidak ada balasannya selain surga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Syaikh Al Albani menghasankannya dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Menyambung tali silaturrahim

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari)Silaturrahim adalah sebuah istilah untuk sikap ikhsan (berbuat baik) kepada kerabat yang memiliki hubungan baik karena nasab (keturunan) maupun karena ash-har (perkawinan), bersikap lemah lembut kepada mereka, memberikan kebaikan dan menghindarkan keburukan semampunya yang menimpa mereka, serta memperhatikan keadaan mereka baik agama maupun dunianya

Berinfak

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman: “Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: Allah berfirman, “Berinfaklah wahai anak Adam! Niscaya Aku akan berinfak kepadamu.” (HR. Bukhari)Juga bersabda: “Tidak ada satu hari pun, di mana seorang hamba melalui pagi harinya kecuali dua malaikat turun, yang satu berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak ‘, sedangkan malaikat yang satu lagi berkata, ‘Ya Allah, timpakanlah kerugian kepada orang yang bakhil.’ ” (Muttafaq ‘alaih)Dan bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang sering memaafkan kecuali kemuliaan. Demikian juga tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

Berbuat baik kepada kaum dhu’afa’ (kaum lemah seperti kaum fakir-miskin)

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kamu dibela dan diberi rezeki karena (berbuat ihsan) kepada kaum dhu’afa kamu.” (HR. Bukhari)

Hijrah

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An Nisaa: 100)

Hijrah secara syara’ artinya meninggalkan sesuatu yang dibenci Allah menunju hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya.Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang muslim adalah orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu muslim lainnya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perbuatan yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)Termasuk ke dalam hal ini adalah berhijrah dari negeri kafir (negeri tempat merajalelanya kesyirkkan atau syi’ar-syi’ar kekufuran) dan dirinya tidak mampu menjalankan ajaran-ajaran Islam di sana, menuju negeri Islam (negeri di mana syi’ar Islam nampak seperti azan, shalat berjama’ah, shalat Jum’at dan shalat hari raya). Kecuali jika ia tidak mampu berhijrah atau ia berniat dakwah di sana, maka tidak mengapa tinggal di negeri kafir.

Bersyukur terhadap nikmat Allah

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS. Ibrahim: 7)

Bersyukur kepada Allah adalah dengan mengakui nikmat yang didapatkan berasal dari-Nya, memuji-Nya dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya.

Membantu penuntun ilmu syar’i.

Dalam Sunan At Tirmidzi disebutkan: Ada dua orang bersaudara di zaman Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam, yang satu datang kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam (untuk belajar), sedangkan yang satunya lagi bekerja. Maka orang yang bekerja ini mengeluhkan kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam tentang saudaranya. Beliau pun bersabda, “Mungkin saja kamu diberi rezeki karenanya.”

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Kebiasaan Pers Membuat Berita Bohong

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (QS. Al Hujurat: 6).






Al Baghawy dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith yang diutus oleh Rasulullah saw kepada Bani Al-Musthaliq. Di masa jahiliyah Al Walid bermusuhan dengan Bani Musthaliq. Tatkala dia mendengar bahwa kaum bani Musthaliq akan menjumpainya sebagai sikap takzim terhadap perintah Rasulullah saw, syaitan justru membisikinya bahwa mereka akan membunuhnya.

Maka dia kembali kepada Rasulullah memberikan laporan bahwa Bani Musthalig menolak membayar zakat dan akan membunuhnya. Mendengar hal itu Rasulullah saw murka kepada mereka dan bertekad hendak memerangi mereka.

Kabar kembalinya Al Walid sampai kepada Bani Musthaliq. Mereka segera datang kepada Rasulullah saw. Lalu menyampaikan: Wahai Rasulullah saw kami sudah mendengar tentang utusanmu. Maka kami keluar untuk menyambutnya dan memuliakannya dan kami akan membayar kepadanya apa yang sudah kami terima sebagai hak Allah Azza wa Jalla. Lalu ternyata dia kembali. Kami khawatir kalau-kalau yang membuatnya kembali adalah perintahmu karena engkau murka kepada kami. Sungguh kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya dan murka Rasul-Nya.

Rasulullah saw mencurigai mereka. Beliau mengutus sahabatnya Khalid bin Walid ra secara diam-diam ke perkampungan mereka dengan membawa pasukan. Beliau memerintahkan agar menyembunyikan kedatangannya. Beliau bersabda: Perhatikan, Jika engkau melihat adanya bukti keimanan mereka, maka ambillah zakat dari harta mereka. Jika engkau tidak melihat, maka gunakan untuk mereka apa yang digunakan terhadap orang-orang kafir.

Maka Khalid melaksanakan perintah itu. Khalid mendengar adzan sholat Maghrib dan Isya di perkampungan mereka. Maka Khalid mengambil zakat dari mereka. Khalid hanya melihat kebaikan dan ketaatan mereka. Lalu Khalid pulang ke Madinah menjumpai Rasulullah saw dan mengabarkan apa yang dia lihat.

Maka turunlah firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasik (yakni Al Walid bin Uqbah) membawa kabar, maka telitilah terlebih dahulu supaya kalian tidak menimpakan pembunuhan atau peperangan kepada suatu kaum lantaran tidak tahu sehingga menyesali kesalahan yang kalian lakukan! ”

Allah SWT telah menggelari Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith dalam ayat di atas sebagai seorang fasik lantaran telah membuat laporan palsu, kabar bohong, yang tidak sesuai dengan faktanya tentang Bani Musthaliq yang membuat Rasulullah saw murka dan hendak memeranginya.

Cap fasik itu tepat untuknya karena telah melakukan perbuatan dosa besar, yakni bohong, apalagi kabar bohongnya itu bisa membuat fitnah yang besar yakni peperangan. Dalam beberapa ayat Al Quran orang-orang kafir disebut sebagai orang fasik. Tentu ini juga merujuk kepada kebiasaan mereka membuat berita bohong atau berita bias yang menyudutkan umat lslam.

Sebagai contoh adalah gambaran yang sering diberikan media massa Barat terhadap Isiam dan umat Islam. Mereka sering menyebut bahwa Islam bukanlah agama atau paling tidak mereka sebut islam adalah agama yang berbahaya. Jihad mereka sebut teror dan mujahid mereka sebut teroris. Kasus pengeboman yang meruntuhkan gedung Federal di Oklahoma pada tahun 1997 mereka kabarkan sebagai perbuatan teroris yang buta dari Mesir yang bernama Oemar Abdurrahman.

Mereka blow up kasus itu sebagai kasus terorisme dan mereka membuat UU Anti Terorisme. Tetapi setelah diketahui bahwa pengebomannya adalah mantan anggota marinir AS yang bernama Timothy Mc Veigh. Lalu mereka memberitakan kasus tersebut sebagai kasus kriminal biasa. Kegemaran mereka membuat berita bohong, stigma, hipokrit, dan standar ganda yang intinya selalu kampanye hitam kepada Islam dan umat Islam membuat mereka layak disebut sebagai kaum fasik.

Kebiasaan pers Barat membuat berita bohong, stigmatis, hipokrit, dan standar ganda yang intinya selalu kampanye hitam kepada Islam dan umat Islam tampaknya menular kepada pers kita yang memang mayoritas dikuasai oleh orang-orang kafir.

Sebagai contoh adalah mereka memblow up seruan pembubaran FPI oleh segelintir orang liberal yang mengerahkan bencong, gadis bertato, dan pemuda berambut gimbal di bunderan HI beberapa waktu lalu dengan porsi yang over dosis.

Umat Islam harus memahami bahwa media massa sekuler yang mengidap islamophobia yang gemar membuat berita miring kepada umat Islam adalah media fasik yang umat Islam harus mengecek secara teliti kebenaran berita mereka.

Umat Islam jangan sampai menimpakan fitnah kepada saudaranya sendiri lantaran saudaranya telah dicap oleh media massa fasik sebagai pihak yang buruk, seperti organisasi anarkis, organisasi preman, preman berjubah, dan julukan-julukan negatif lainnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sesama umat Islam bersaudara…” (QS. Al Hujurat 10).

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Wednesday, March 7, 2012

Bersyukur atau Mensyukuri

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam senantiasa dipanjatkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun kadang ini terus merasa kurang, merasa sedikit nikmat yang Allah beri. Allah beri kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal. Allah beri umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, semua adalah nikmat dari Allah yang luar biasa.

Syukuri yang Sedikit

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.

Kita Selalu Lalai dari 3 Nikmat

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.

Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.

Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.

Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.

Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).

Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.

Kesehatan Juga Nikmat

Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.” (Dinukil dari Fathul Bari, 11/230)

Rizki Tidak Hanya Identik dengan Uang

Andai kita dan seluruh manusia bersatu padu membuat daftar nikmat Allah, niscaya kita akan mendapati kesulitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ( إبراهيم

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Bila semua yang ada pada kita, baik yang kita sadari atau tidak, adalah rizki Allah tentu semuanya harus kita syukuri. Namun bagaimana mungkin kita dapat mensyukurinya bila ternyata mengakuinya sebagai nikmat atau rejeki saja tidak?

Saudaraku! kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama langgengnya kenikmatan pada diri anda ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Qur’an yang barangkali kita pernah mendengarnya disebutkan,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Alih-alih mensyukuri nikmat, menyadarinya saja tidak. Bahkan dalam banyak kesempatan bukan hanya tidak menyadarinya, akan tetapi malah mengingkari dan mencelanya. Betapa sering kita mencela angin, panas matahari, hujan dan berbagai nikmat Allah lainnya?

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Imam As Syafii berkata, “Segala puji hanya milik Allah yang satu saja dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali dengan menggunakan nikmat baru dari-Nya. Dengan demikian nikmat baru tersebutpun harus disyukuri kembali, dan demikianlah seterusnya.” (Ar Risalah oleh Imam As Syafii 2)

Wajar bila Allah Ta’ala menjuluki manusia dengan sebutan “sangat lalim dan banyak mengingkari nikmat, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan juga pada ayat berikut,

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ

“Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj: 66)

Artinya di sini, rizki Allah amatlah banyak dan tidak selamanya identik dengan uang. Hujan itu pun rizki, anak pun rizki dan kesehatan pun rizki dari Allah.

Surga dan Neraka pun Rizki yang Kita Minta

Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. Saba’: 4)

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 11)

Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Yang namanya bersyukur adalah dengan meninggalkan saat dan selalu taat pada Allah. Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” Mukhollad bin Al Husain mengatakan, “Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq)

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Thursday, February 23, 2012

sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak

Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling dari agama, serta mengumpulkan harta benda lalu menyimpannya.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir , apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman dari kedatangannya. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya. dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu di syurga lagi dimuliakan.

Al MA´AARIJ (TEMPAT-TEMPAT NAIK)











Continue Reading...

Madinah Al Munawarah

Selama ini, kebanyakan dari kita sudah terlanjur memahami kata “madinah” sebagai sebuah nama kota di Saudi Arabia; sebuah kota bersejarah dalam peradaban Islam. Bahkan, karena kemudian kata itu digandeng dengan kata “al-munawarah” sehingga menjadi “madinah al-munawwarah” yang artinya kota yang bercahaya, maka perlahan kata “madinah” dimaknai sebagai “kota” dalam bahasa Indonesia.

Saya pernah mendengar penjelasan dari seseorang bahwa kata “madinah” punya akar kata “dien” yang selama ini diterjemahkan sebagai “agama”. kata “din” itu sendiri telah membawa makna susunan kekuasaan, struktur hukum, aturan dan atau sistem serta norma dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya “din” itu tersembunyi suatu sistem kehidupan. sehingga kemudian madinah menjadi sebuah arti kata yang bermakna lebih luas sebagai Ibukota baik negara atau provinsi , hal ini didapatkan dari penjabaran kota sebagai suatu tempat tersusunnya suatu kekuasaan yang mengatur hukum atau aturan dan sistem yang berlaku di dalam suatu negeri.

Oleh sebab itu ketika din Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Artinya, madinah merupakan tempat dilaksanakannya din atau sistem dan atau aturan suatu negara. Seperti halnya, kata “masjid”, yang berasal dari kata sujud, diberi imbuhan “ma” menjadi bermakna “tempat sujud”. Dari akar kata “din” dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.

Dari akar kata “madana” itu kemudian lahir kata benda “tamaddun” yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). 

Pilihan kata dengan terminologi “madinah” yang berarti tempat dilaksanakannya hukum Allah. bisa menjadi sangat jelas, bahwa madinah bukan semata tentang kota. dan, madinah juga pernah ada jauh sebelum Nabi Muhammad ada. Jika pun kemudian ada perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, itu karena Nabi Muhammad berkaca dari sejarah kemilau tegaknya Agama Allah oleh Nabi-Nabi terdahulu.

didalam surah Yassin, yang bercerita tentang Nabi Musa, maka anda akan menjumpai satu firman Allah : “wa ja a min aqshal madinati rajulun yas’a.…” "dan datanglah lelaki dari ujung kota”. Jelas, bahwa di masa Musa, terminologi madinah sudah ada.


Lantas apa maksud dari madinah al munawwarah pada zaman rasulullah adalah kota madinah yang bercahaya ataukah madinah dengan arti tempat dilaksanakannya hukum Allah yang bercahaya.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Bilakah Lalai Ini Berakhir?

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (Al Anbiyaa’: 1)

Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan setiap ayat - ayat suci al quran dan hadist Rasulullah serta apa yang tertulis didalam kitab - kitab-Nya, yang menceritakan tentang sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dimana kita akan melihat kebanyakan manusia lalai terhadap akhirat, lalai terhadap kewajiban agama, lalai terhadap fitrah mereka yang mana mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka rela memeras otak dan tenaganya demi mendapatkan dunia dan perhiasannya, namun untuk agama terasa berat memerasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka mau mengerjakan kewajiban agama bila ujung-ujungnya mereka mendapatkan dunia.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (terjemah Huud: 15-16).

Orang yang seperti ini kata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ 

وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamiishah (pakaian mewah), jika diberi ia senang, jika tidak ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah, kalau terkena duri semoga tidak tercabut.” (HR. Bukhari)
 
Saat ini tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa kebanyakan manusia hidup dalam kelalaian yang nyata dari (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kampung akhirat. Dunia dan seluruh perhiasannya telah menjebak umat manusia, angan-angan tak karuan sudah menipunya, dan mereka telah disetir oleh keinginan-keinginan , serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada perbuatan yang mereka anggap bagus secara lahiriah, namun dengan ini semua diri masih mengira bahwa telah berbuat sebaik-baiknya perbuatan.

Sesungguhnya ghaflah (lalai, terlena) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkram jiwa, serta menawan / melumpuhkan angota badan. Semua aktifitas mereka didasari karena dunia, mereka cinta kepada seseorang karena dunia meskipun orang yang dicintainya adalah orang kafir, bencipun karena dunia meskipun orang yang dibencinya adalah orang mukmin, bertengkar karena dunia, bahkan karena dunia mereka tinggalkan perintah Rabb mereka.

Al Imam Ibnu Al Qayyim rahimahumulloh berkata: Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemashlahatan baginya, sedang mereka menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Namun apakah lalainya kebanyakan manusia dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan dari hari kemudian itu merupakan hujjah bagi orang-orang yang lengah dan suka main-main? Sama sekali tidak…..Itu bukan hujjah bagi mereka, bahkan menjadi hujjah atas mereka, karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja yang tidak ada sekutu baginya, dan meninggalkan jalan-jalan kelengahan dan kesesatan, begitu juga Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan dari sikap lalai dan semua pintu-pintunya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati-mu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS: Al ‘Araf: 205)

Al Imam Abu Muhammad Al Qushariy berkata: Sungguh Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah melarang manusia berbuat lalai, dan Dia telah memerintahkan agar selalu mengingat-Nya setiap saat, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS: Al-Ahzab: 41) Dan berfirman, yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring...” (QS: Ali Imran: 191)

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan terenyuh, serta tidak tergerak sedikitpun dengan mau’idhah (wejangan), dia bagaikan batu, bahkan lebih keras. Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu dengannya membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.

Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, nyanyian, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS: Yunus: 7-8)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridla dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman dia mendapat kemurkaan Allah, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman dia tidak berdosa Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatan-nya telah dikunci mati oleh Alloh, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS: An Nahl: 106-108)

Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata: Dan lalai dari (mengingat) Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian bila berpasangan dengan mengikuti hawa nafsu maka terlahirlah dari keduanya segala macam keburukan, dan umumnya bergabung antara keduanya dan tidak pernah terpisahkan. Barang siapa memperhatikan kerusakan situasi alam ini, secara umum maupun khusus maka dia bakal mendapatkannya sebagai akibat dari kedua hal ini. Kelalaian menjadi penghalang antara seseorang dengan kemampuan memandang kebenaran, mengetahuinya, dan memahaminya, sehingga ia termasuk dalam jajaran orang-orang yang sesat.


Bersambung Insya Allah

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Mencari Ridha Allah

Mencari atau mengharap atau semata-mata demi “keridhaan Allah” adalah ungkapan jawaban yang sering kita dengar tatkala kita menanyakan tujuan dari suatu amal yang dilakukan oleh saudara kita. Jawaban itu sejatinya mencerminkan keimanan yang benar, jika memang diyakini seperti itu, terucap seperti itu, dan terwujud dalam realita amal yang selaras dengan itu jika tercermin dan terlaksana dalam kehidupan sehari - hari.

Alangkah sayangnya, jika kita hanya memahami makna pernyataan yang agung tersebut dan semata-mata hanya menjadi ucapan bibir yang lahir bukan dari pemahaman dan keyakinan. Dan ia menjadi kata-kata yang tidak bermakna karena tidak ada korelasi dengan perilaku kehidupan sehari - hari.

Hal yang sering membuat saya berpikir dan mengevaluasi kembali tentang apa yang telah saya lakukan , ketika dalam kesunyian sendiri menghisab segala ucapan dan perbuatan dan bertanya apakah yang saya lakukan selama ini benar dalam rangka menggapai ridha Allah atau tidak adalah ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang seharusnya sesuai dengan pedoman yang ada.
Terkadang saya pun kembali merenung, apakah artinya dengan mengikhlaskan tujuan karena Allah semata ?

Pernyataan bahwa keimanan yang benar adalah menjadikan Allah sebagai dzat yang satu-satunya dicintai, namun dibalik itu semua keimanan tidak menafikan adanya cinta kepada isteri, anak, atau harta benda. Keimanan yang benar adalah menempatkan cinta kepada semua itu dalam rangka mencintai Allah dan cinta kepada semua itu adalah cinta yang dilakukan melalui jalan yang telah ditunjukkan dalam ayat - ayat - Nya. Bukankah Demikian ..........? 

Keselamatan , keberkahan , karunia , rahmat , ampunan adalah hal yang ghaib, berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Apakah pada akhirnya seseorang selamat atau tidak, semua itu menjadi rahasia Allah. Jika seseorang melakukan ketaatan demi memperoleh sesuatu yang masih menjadi rahasia Allah, di mana Allah berkuasa memberikan hal itu, tentu fenomena yang demikian bukanlah sesuatu yang dimaksudkan dalam firman - Nya. 

Sesungguhnya dalam Al Quran itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al 'Ankabuut : 51

Ridha terhadap Allah berarti menerima semua ketentuan Allah terhadap manusia dan tuntutan Allah terhadap manusia. Ketentuan Allah terhadap manusia merupakan qadha dan qadar yang sudah tertulis dalam kitab Lauh Al-Mahfudz. Apa yang ‘telah’ berlaku atas manusia disebut takdir, yang mana kita diperintahkan untuk mengambil hikmahnya agar kita lebih taat kepada Allah. Dan tuntutan Allah terhadap manusia merupakan takdir syar’i (ketentuan syariat) berupa wahyu Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw untuk dipelajari, diamalkan, dan untuk ditaati.





Mencari ridha Allah bisa diartikan menerima ketentuan Allah atas diri kita. Dalam konteks terbang, berarti siap untuk selamat ataupun tidak selamat, karena semua itu adalah rahasia Allah diluar jangkauan kita. Mencari ridha Allah juga berarti menerima tuntutan Allah terhadap diri kita. Dalam konteks terbang, jika kita menghendaki keselamatan maka kita pun hendaknya banyak mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan banyak amal ketaatan. Itulah upaya maksimal yang bisa dilakukan.

Mencari ridha Allah berarti berupaya semaksimal mungkin menjalankan ketaatan kepada Allah dan menyerahkan hasil akhir ketaatan itu kepada-Nya. Tentu kita tidak bisa dengan pasti mengklaim atau menilai seseorang itu telah menempuh jalan dalam keridhaan-Nya atau tidak. Tetapi setidaknya kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah kita telah beramal semata-mata mencari ridha Allah atau tidak.


Wallahu A'lam
Continue Reading...

Wednesday, February 22, 2012

Ayat Ayat Allah

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.

Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap pahala amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong. 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Al Kitab , mereka diseru kepada kitab Allah supaya dengan kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi kebenaran. 

Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari kiamat yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).

Continue Reading...

Al Quran Dan Mu'jizat

Sebagai seorang Muslim yang beriman sudah sepantasnya kita meyakini dengan tidak hanya percaya bahwa Al Quran sebagai kitab suci Islam adalah mu'jizat yang besar dan firman Allah yang tidak akan terhapus dan ternodai kesuciannya sampai akhir zaman. Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad secara ajaib dari Allah  melalui malaikat Jibril (Gabriel), sempurna salinan kata demi kata dan apa yang tertulis adalah kebenaran yang harus diyakini. Oleh karena itu ayat-ayat dari buku ini disebut sebagai ayat, yang juga berarti "tanda" dalam bahasa Arab Hal. ini diyakini bahwa Al-Qur'an seperti yang kita kenal sekarang, adalah sama seperti yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad. Al-Qur'an itu sendiri memberikan tantangan terbuka bagi siapa saja yang menyangkal asal mengklaim ilahi untuk menghasilkan teks seperti itu.

Para kritikus percaya bahwa Muhammad dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan Kristen lebih tua, dan karena itu termasuk banyak dari keajaiban dikenal dari Alkitab dalam Al Qur'an. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa Muhammad buta huruf dan tidak membaca buku atau menulis buku [Quran 29:48] dan bahwa ia tidak tahu tentang peristiwa masa lalu [Quran 03:44] [11:49] [28:44].

Keajaiban diklaim dalam Al-Qur'an dapat diklasifikasikan menjadi kategori berbeda : mukjizat ilmiah dan nubuat.
Mujizat Ilmiah

Keyakinan bahwa telah dinubuatkan dalam Alquran teori-teori ilmiah dan penemuan dizaman sekarang dan telah menjadi keyakinan yang kuat dan luas di dunia Islam kontemporer; nubuat ini sering disediakan sebagai bukti asal-usul ilahi dari Al Qur'an. Fakta-fakta ilmiah diklaim dalam Al Qur'an ada pada subyek yang berbeda, termasuk penciptaan, astronomi, reproduksi manusia, Oseanologi, embroyology, zoologi, siklus air, dan banyak lagi.

Sarjana Islam berpikir bahwa ayat ini mengacu pada fakta-fakta ilmiah dalam Al Qur'an yang akan ditemukan oleh dunia dalam zaman modern, beberapa abad setelah wahyu dan bahkan kekal sampai akhir zaman. Kepercayaan ini, bagaimanapun, diperdebatkan di dunia Muslim. Sementara sebagian percaya dan mendukungnya, beberapa cendekiawan Muslim menentang keyakinan, mengklaim bahwa Al Qur'an bukan buku ilmu pengetahuan; Para sarjana berpendapat, kemungkinan penjelasan ilmiah beberapa fenomena alam, dan menolak untuk mensubordinasikan Al Qur'an untuk ilmu yang selalu berubah.

Nubuat

Bersambung Insya Allah
Continue Reading...

Kedatangan Ilmu Pengatahuan Modern

Kedatangan ilmu Pengetahuan modern di dunia Islam , Pada awal abad kesembilan belas, ilmu pengetahuan modern tiba di dunia Muslim tapi bukan ilmu itu sendiri yang cendekiawan Muslim paling banyak terkena imbasnya. Sebaliknya, "adalah pengalihan arus filosofis berbagai terjerat dengan ilmu pengetahuan yang memiliki efek mendalam pada benak para ilmuwan dan intelektual muslim. Sekolah seperti Positivisme dan Darwinisme merambah dunia Muslim dan didominasi kalangan akademisi dan memiliki dampak yang nyata pada beberapa doktrin teologis Islam. Ada tanggapan yang berbeda untuk ini di antara reaksi-reaksi para ulama Muslim diantaranya adalah sebagai berikut:

Beberapa menolak ilmu pengetahuan modern sebagai pemikiran asing yang korup, mengingat tidak kompatibel dengan ajaran Islam, dan dalam pandangan mereka hanya untuk mengaburkan ajaran terhadap masyarakat Islam yang ketat :





Pemikir lain di dunia Muslim melihat ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya sumber pencerahan yang nyata (menurut mereka) dan menganjurkan adopsi lengkap ilmu pengetahuan modern dalam pandangan mereka, dengan mengajarkan masyarakat Muslim akan penguasaan ilmu pengetahuan modern dan penggantian pandangan dunia keagamaan oleh pandangan dunia ilmiah.
Mayoritas ilmuwan Muslim yang setia mencoba untuk beradaptasi Islam dengan temuan ilmu pengetahuan modern, mereka dapat dikategorikan dalam sub kelompok berikut : 

(a) Beberapa pemikir Muslim berusaha untuk membenarkan ilmu pengetahuan modern dengan alasan agama. Motivasi mereka adalah untuk mendorong masyarakat Muslim untuk memperoleh pengetahuan modern dan untuk melindungi masyarakat mereka dari kritik Orientalis dan intelektual Muslim. 

(B) Lainnya mencoba untuk menunjukkan bahwa semua penemuan ilmiah penting telah diprediksi dalam tradisi Islam dan Qur'an dan menarik ilmu pengetahuan modern untuk menjelaskan berbagai aspek iman. 

(C) Namun ulama lain menganjurkan suatu re-interpretasi Islam. Dalam pandangan mereka, kita harus mencoba untuk membangun sebuah teologi baru yang dapat membangun hubungan yang layak antara Islam dan ilmu pengetahuan modern. mencari teologi alam yang melaluinya orang bisa kembali menafsirkan prinsip-prinsip dasar Islam dalam terang ilmu pengetahuan modern. 

(D) Kemudian ada beberapa sarjana Muslim yang percaya bahwa ilmu pengetahuan empiris telah mencapai kesimpulan yang sama dari para nabi yang telah menganjurkan ajaran tersebut beberapa ribu tahun yang lalu.

Akhirnya, beberapa filsuf Muslim dipisahkan temuan ilmu pengetahuan modern dari lampiran filosofisnya. Jadi, sementara mereka memuji upaya ilmuwan Barat untuk penemuan rahasia alam, mereka memperingatkan terhadap berbagai empiris dan interpretasi materialistik dari temuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah dapat mengungkapkan beberapa aspek dunia fisik, tetapi tidak harus diidentifikasi dengan alfa dan omega pengetahuan. Sebaliknya, itu harus diintegrasikan ke dalam kerangka metafisik yang konsisten dengan pandangan dunia Islam di mana tingkat yang lebih tinggi dari pengetahuan diakui dan peran ilmu pengetahuan  membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Kompatibilitas Islam dan perkembangan ilmu dalam Budaya Islam telah mempromosikan atau menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam sengketa. Banyak ulama salaf dan modern setuju dan membenarkan Al Qur'an bahkan mendorong perolehan ilmu dan pengetahuan ilmiah, dan mendesak manusia untuk merenungkan fenomena alam sebagai tanda-tanda ciptaan Allah. Beberapa instrumen ilmiah yang dihasilkan di zaman klasik di dunia Islam yang bertuliskan kutipan Al quran. Banyak Muslim setuju bahwa melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah tindakan kebaikan agama, bahkan kewajiban kolektif dari komunitas Muslim.

Sementara yang lain mengklaim penafsiran tradisional Islam tidak kompatibel dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Islam sedikit tertinggal di belakang dari dunia Barat dalam kemajuan ilmu pengetahuan setelah (sekitar) 1500 AD disebabkan oleh oposisi ulama tradisional dalam upaya untuk merumuskan penjelasan sistematis fenomena alam dengan "hukum alam." Dia menyatakan bahwa mereka percaya hukum seperti itu menghina Tuhan karena mereka membatasi "kebebasan Allah untuk bertindak".

Pada awal abad kedua puluh ulama melarang pembelajaran bahasa asing dan diseksi tubuh manusia di sekolah kedokteran. Dalam beberapa tahun terakhir, ketertinggalan dunia Muslim dalam ilmu terwujud dalam jumlah yang tidak proporsional , keluaran ilmiah yang diukur dengan kutipan dari artikel yang dipublikasikan atau beredar luas dimasyarakat, pengeluaran tahunan pada penelitian dan pengembangan, dan jumlah penelitian para ilmuwan dan insinyur.

Menurut banyak sejarawan, ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam berkembang selama abad pertengahan, tetapi mulai menurun pada beberapa waktu di sekitar abad 14 sampai 16 . Setidaknya beberapa sarjana menyalahkan ini pada Contoh konflik dengan interpretasi yang berlaku Islam dan ilmu pengetahuan "munculnya faksi ulama yang membekukan ilmu yang sama dan kemajuan yang layu" dan semakin menjauhkan manusia dari menerima keberadaan Sang Pencipta.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Segala puji bagi Allah

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami."

Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata ",

supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.

Dan orang-orang yang berusaha untuk menentang ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu azab yang pedih.

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki manusia kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dan orang-orang kafir berkata kepada teman-temannya. "Maukah kamu kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan kembali dalam ciptaan yang baru?

Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?" 

Tidak, tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh.

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?

Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Tuhan bagi setiap hamba yang kembali kepada-Nya.

Saba' : 1 - 9
Continue Reading...

Sekiranya beriman dan bertakwa

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga-duga ? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah lenyap penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar pelajaran lagi ?

Negeri-negeri yang telah Kami binasakan itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu.

Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.

Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

Al A'raaf : 96 - 102
Continue Reading...

Kami Turunkan Al Quran

Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.


Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu,

merasa aman dari bencana ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka,

atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,

atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan,

maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak azab itu atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur sampai binasa.

sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Continue Reading...

Kutukan

kutukan dan ancaman

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut api neraka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran." 

Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." 

Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka dengan mengatakan : "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa yang Tuhan kamu menjanjikannya kepadamu?" 

Mereka penduduk neraka menjawab: "Betul." 

Kemudian seorang penyeru mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, yaitu orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." 

Al A'raaf : 40 - 45
Continue Reading...

Neraka Saqar

Al Muddatstsir : 27 - 30

Tahukah kamu apakah neraka Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia. dan di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga.


Al Muddatstsir : 42 - 48

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian."

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at.
Continue Reading...

Monday, February 20, 2012

Ilmu Pengetahuan Islam

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan Islam mengacu pada ilmu yang dikembangkan dalam peradaban Islam antara abad ke-8 dan 16, yang dikenal sebagai Masa Keemasan Islam. juga dikenal sebagai ilmu bahasa Arab karena sebagian besar teks-teks selama periode ini ditulis dalam bahasa Arab, lingua franca peradaban Islam. Meskipun istilah-istilah ini, tidak semua ilmuwan selama periode ini adalah Muslim atau Arab, karena ada sejumlah ilmuwan non-Arab terutama Persia, serta beberapa ilmuwan non-Muslim, yang berkontribusi untuk penelitian ilmiah di dunia Islam .

Sejumlah sarjana modern menganggap ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah telah sangat terinspirasi oleh para ilmuwan Muslim yang memperkenalkan pendekatan empiris, eksperimental dan kuantitatif modern untuk penyelidikan ilmiah. Beberapa ulama terkenal menyebut prestasi mereka sebagai sebuah revolusi ilmiah Muslim, meskipun ini tidak bertentangan dengan pandangan tradisional dari Revolusi Ilmiah yang masih didukung oleh kebanyakan ahli.

Hal ini diyakini bahwa itu adalah sikap empiris dari Qur'an dan Sunnah yang terinspirasi ilmuwan Muslim abad pertengahan, di Alhazen tertentu (965-1037), untuk mengembangkan metode ilmiah. Ia juga dikenal bahwa kemajuan tertentu yang dibuat oleh para astronom Muslim abad pertengahan, ahli geografi dan matematikawan dimotivasi oleh masalah yang disajikan dalam Kitab Suci Islam, seperti pengembangan Al-Khwarizmi aljabar untuk memecahkan hukum waris Islam, dan perkembangan astronomi, geometri geografi, dan bola trigonometri untuk menentukan arah kiblat, waktu dari Salah doa, dan tanggal dalam kalender Islam.

Peningkatan penggunaan dalam kedokteran Islam selama berabad-abad dipengaruhi oleh tulisan-tulisan para teolog Islam, Al-Ghazali, yang mendorong studi tentang anatomi dan penggunaan pembedahan sebagai metode memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Tuhan. Dalam koleksi al-Bukhari dan Muslim dari hadits shahih dikatakan: "Tidak ada penyakit yang Allah telah menciptakan, kecuali bahwa Dia juga telah menciptakan pengobatannya." (HR Bukhari ). Hal ini memuncak dalam karya Ibn al-Nafis (1213-1288), yang menemukan sirkulasi paru pada 1242 dan digunakan penemuannya sebagai bukti doktrin Islam ortodoks dari kebangkitan tubuh. Ibn al-Nafis juga digunakan Kitab Suci Islam sebagai pembenaran untuk penolakannya terhadap anggur sebagai pengobatan sendiri. Kritik terhadap alkimia dan astrologi juga dimotivasi oleh agama, sebagai teolog Islam ortodoks memandang keyakinan alkemis dan astrolog sebagai takhayul.

Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), dalam menangani konsepsinya tentang fisika dan dunia fisik dalam bukunya Matalib, membahas Islam kosmologi, mengkritik gagasan Aristoteles tentang sentralitas bumi dalam alam semesta, dan "mengeksplorasi gagasan adanya multiverse dalam konteks komentarnya, "berdasarkan ayat Al-Qur'an," Segala pujian milik Allah, Tuhan semesta alam. " Dia mengangkat pertanyaan apakah istilah "dunia" dalam ayat ini mengacu pada "dunia dalam beberapa alam semesta yang tunggal atau kosmos, atau alam semesta lain atau multiverse luar alam semesta yang diketahui." Atas dasar ayat ini, ia berpendapat bahwa Tuhan telah menciptakan lebih dari seribu dunia di luar dunia ini sehingga setiap orang dari dunia-dunia menjadi lebih besar dan lebih besar dari dunia ini serta memiliki sejenisnya dari apa yang dunia ini.

Menurut banyak sejarawan, ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam berkembang selama abad pertengahan, tetapi mulai menurun pada beberapa waktu sekitar 14 sampai 16 abad. Setidaknya beberapa sarjana menyalahkan ini pada munculnya beberapa ulama yang membekukan ilmu yang sama dan kemajuan layu yang pada dasarnya tidak memberikan pengaruh apapun kepada manusia melainkan kebanyakan manusia semakin tidak percaya kepada adanya Sang Pencipta. 

Tidak dapat kita tolak dan sudah terbukti adanya bahwa ilmu pengetahuan yang sejatinya telah Allah Subhanahu Wata'ala berikan mustinya memberikan kebahagian dan ketenangan serta ketentraman dan Iman , kini malah sebaliknya semakin menjerumuskan manusia pada ke-syirikan dan kekufuran akan adanya Sang Pencipta. (bersambung Insya Allah)

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Saturday, February 11, 2012

Tips Sederhana Untuk Mengatasi Depresi

Banyak orang bangun setiap hari merasa seperti hidup dalam kejenuhan , kegaduhan, kebingungan, dan permasalahan hidup yang tak kunjung selesai, seperti tidak ada lagi jalan yang pernah akan bisa untuk menempuh arah menjadi lebih baik seperti yang diharapkan. berikut tips sederhana yang mungkin dapat membantu anda berhenti merasa tidak bahagia dan membantu melihat hal-hal dengan cara yang positif dan menaklukkan depresi. Jika Anda berpikir Anda mungkin memiliki masalah kesehatan mental yang serius , jangan ragu juga untuk berkonsultasi ke ahlinya baik medis maupun spiritual.

1. Pelajari Apa Siklus Emosional yang anda miliki

Jika Anda memahami pola emosi positif dan negatif, dapat membantu untuk menempatkan perasaan Anda dalam berbagai perspektif. Sepanjang hidup, anda akan merasa tenang , tentram dan bahagia dalam beberapa hari, tapi kemudian mengalami hari-hari yang mengerikan dikesempatan lain. Hidup itu seperti naik roller coaster emosional. Pelajari bahwa semua emosi yang anda alami pada akhirnya sama seperti yang positif perasaan negatif akan berlalu dan meninggalkan anda di antara keduanya. Jika perasaan anda benar-benar turun dan depresi, ingatlah bahwa hal itu hanya sementara dan setiap orang akan mengalaminya karena memang dibuat demikian adanya dan itulah ujian dalam kehidupan dunia. (al ayat)

2. Kelilingi Diri Anda Dengan Orang-orang Positif

Tidak ada yang membuat anda merasa negatif lebih dari sekitar diri anda dengan orang negatif lainnya. Kita semua telah mendengar ungkapan 'kemiripan menarik kemiripan. Semua perasaan yang menular. Jika orang yang anda menghabiskan waktu bersama adalah negatif minded, selalu mengeluh tentang betapa buruknya kehidupan namun tidak pernah melakukan apa-apa. Maka lebih besar kemungkinannya akan menular pada Anda. Luangkan waktu dengan beberapa orang yang berpikir positif dan melihat efeknya terhadap kerangka pikiran anda.

3. Kenali kegiatan Rutin Anda

Berpartisipasi dalam rutinitas yang sama setiap hari bisa sangat membosankan dan menyedihkan. Coba sesuatu yang baru untuk membut beberapa hal yang menggembirakan dalam hidup anda. Campur rutinitas Anda sedikit. Jangan terjebak dalam lubang yang sama setiap hari sembari mengambil bentuk baru dari latihan atau pergi mencari / melakukan kegiatan / hobi baru. Buka pikiran anda untuk pengalaman baru dan melihat efek positif yang kemudian akan mempengaruhi pikiran anda.

4. Jelajahi Keajaiban Dari Alam

Bertamasya / jalan - jalan melihat keindahan alam akan sedikit menghilangkan kejenuhan daripada duduk merenung dan menjadi depresi. melihat pekarangan , rerumputan dan kegiatan hewan kecil disekitar kita akan memberikan pengetahuan dan pengalaman baru serta mencerahkan pikiran stress dan atau depresi. Kita sebagai manusia dizaman ini telah banyak terjebak dengan begitu banyak kepentingan dan hal hal kecil yang tidak signifikan serta bermanfaat hanya sebatas kehidupan sementara saja. cobalah elajar untuk hidup di saat ini dengan mengamati keajaiban alam karena mereka akan  membantu setidaknya untuk melupakan masalah anda sementara.

Cobalah gabungan 4 tips sederhana dalam kehidupan sehari-hari Anda dan melihat efek itu pada perasaan Anda. Belajar untuk hidup di saat ini dan selamanya untuk  menjadi bahagia dengan tidak ada kekhawatiran dan tidak pula bersedih hati.
Continue Reading...

Friday, February 10, 2012

Mencapai Tujuan Hidup

Hidup bukan cari kepuasan tapi cari ketenangan

Semua orang di dunia ini pasti mempunyai mimpi dan cita-cita dalam hidupnya. Tak peduli apa pun yang dikerjakan oleh seseorang, impian dan cita-cita adalah tujuan utama. Bisa jadi itu soal mengurangi berat badan atau dalam karier. Dan langkah pertama meraih sukses adalah menetapkan tujuan yang jelas. Banyak orang mengerjakan sesuatu tapi tak mendapat keberhasilan hanya karena tujuan yang kurang jelas. Banyak orang tak merancang tujuan karena mereka bahkan tak punya gagasan dari mana harus memulainya.

Jika Anda ingin merancang tujuan, anda mesti meluangkan waktu untuk membangun impian. Jika anda tak punya impian, akan sulit untuk menentukan tujuan dalam hidup anda. Sayangnya, kebanyakan orang jadi kehilangan kemampuan untuk bermimpi tentang apa yang paling diinginkan dan membangun motivasi untuk pencapaian. Jadi, untuk memulainya, luangkan waktu untuk bermimpi tentang apa yang paling anda inginkan seperti apa, atau bahkan tentang apa yang ingin anda miliki. Begitu anda menemukan impian selanjutnya jalakan.

Setelah anda menjalankan setiap langkah dalam menempuh impian anda, baca sekali lagi apa yang telah anda lakukan. Saat membacanya kembali, berhentilah pada tiap-tiap lagkah dan tanyakan ‘kenapa Anda melakukan hal itu dan apa artinya serta bagaimana hasil akhirnya ?’. Jika Anda tak dapat menjawabnya dalam beberapa kalimat, kemungkinan itu bukan hal yang benar-benar anda impikan, dan akhirnya harus anda coret dari daftar tujuan dari setiap langkah anda dalam meraih impian dan cita cita.

Benarkan Ini Tujuan Anda?

Banyak orang yang sebenarnya punya impian yang dibentuk oleh orang lain. Jadi penting untuk menemukan apa benar apa yang ingin anda capai adalah tujuan anda atau tujuan orang lain. Saat merancang tujuan, jika ternyata impian dan tujuan itu bukan yang anda inginkan, coret saja dari daftar tujuan dan langkah hidup anda.
Temukan Bagaimana Tujuan Ini Akan Mempengaruhi Kehidupan Anda

Setelah anda membuat daftar yang benar tentang impian anda, lihat kembali apa yang tertinggal. Masukkan impian yang tertinggal ini ke dalam daftar dan pikirkan bagaimana ini akan membawa pengaruh dalam hidup anda. Apakah mencapai tujuan ini akan membuat anda lebih bahagia daripada sekarang ? Akankah memperbaiki rasa aman dan hubungan anda dengan orang lain? Apa akan berpengaruh pada keuangan anda secara positif? Jika ternyata impian ini tak membawa pengaruh positif dalam kehidupan anda, mungkin seharusnya dikesampingkan. Jika anda menemukan pencapaian anda akan membawa pengaruh positif dalam kehidupan anda, sebaiknya memiliki motivasi untuk mengejar dan mencapai semua tujuan ini.

Persempit lagi daftar untuk menemukan tujuan sejati, bukan hanya keinginan atau angan-angan anda. Pada titik ini anda perlu mengkategorikan tujuan ke dalam berbagai golongan, tergantung dari seberapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mencapainya. anda akan memiliki tujuan jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mencapainya, tujuan jangka pendek yang butuh waktu sebulan atau lebih untuk meraihnya, dan tujuan yang bisa tercapai sewaktu-waktu dari jangka waktu sebulan hingga setahun. Tapi ingat, anda harus punya tujuan besar, dan pastikan memiliki tujuan dalam setiap kategori sehingga bisa secara terus-menerus berupaya meraih tujuan itu dalam kehidupan Anda.

Setelah Anda membangun tujuan, kini anda perlu membuat rencana bagaimana akan mencapainya. anda harus selalu berusaha mewujudkan tujuan anda, bahkan jika itu hanya butuh sebuah langkah kecil untuk mencapainya. Pastikan tidak berlebihan dalam mengupayakan mewujudkannya. Sesekali dibutuhkan manajemen dan motivasi sebagai bagian rencana anda dan untuk melengkapi tugas ini, tapi itu pasti akan jadi usaha yang berharga. Buat grafik pencapaian untuk membantu anda mencapai tujuan, dan saat anda sudah mencapainya beri tanda dalam grafik tersebut.

Kelihatannya begitu mudah untuk melaksanakan semua tips di atas, tapi yang terpenting dari segalanya hanya tindakan yang akan membawa hasil buat kita.

Selamat Mencoba!
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info

?>

Text

Dunia Islam Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template