Showing posts with label Islam Dan Science. Show all posts
Showing posts with label Islam Dan Science. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

Kehidupan Dunia Dan Kehidupan Akhirat

"kehidupan akherat pasti adanya tidak ada keraguan padanya"

Dari sekian banyak ayat - ayat yang menjelaskan tentang kehidupan akherat , perbandingan diantara keduanya (kehidupan dunia dan akherat ) adalah ibarat kita mengambil air dilautan dimana kehidupan dunia adalah air yang ada dalam genggaman kita sedangkan kehidupan akherat adalah air laut yang masih tersisa / tertinggal dilautan. sebagaimana dijelaskan dalam firman Allaah surah Ar Raad : 26 :

"Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit" 

Alangkah  ruginya kita manusia , merasa senang , gembira dan puas serta merasa cukup dalam kehidupan yang kecil dan terbatas di dunia ini dan melupakan kehidupan yang lebih kekal di akherat kelak , terbakar , sengsara dan tersiksa dalam neraka selama-lamanya.

Satu paradigma yang sudah tidak asing lagi sejak dahulu manusia seringkali lupa dan lalai serta ingkar serta menganggap apa yang telah diperingatkan oleh para nabi dan rosul sebagai sesuatu yang tidak masuk akal sama sekali, bahkan tak jarang mereka menganggap apa yang telah diperingatkan kepada mereka adalah hanya merupakan dongengan orang - orang purbakala.

Bahkan tak jarang ketika apa yang diperingatkan itu merupakan suatu kebenaran dan ketika bukti - bukti atas apa yang diancamkan kepada mereka itu terjadi mereka menganggap itu adalah sihir , kebetulan dan atau karangan serta kebohongan semata. maka tak lain dan tidak bukan serta tidak dapat dihindarkan lagi alangkah hebat dan besarnya penyesalan yang akan menimpa mereka nanti, sesal yang tak akan mungkin dapat ditebus lagi kecuali dengan azab dan siksa baik didunia maupun diakherat.

Banyak dan seringkali disebutkan didalam ayat - ayat al quran dan hadist dimana Allaah dan Rasul-Nya berulang kali menegaskan untuk difahami dan diyaqini oleh kita manusia, bahwa kehidupan akherat itu adalah kehidupan yang amat penting, jauh lebih penting dari kehidupan didunia sekarang ini , bukan saja lebih penting tetapi lebih besar dan lebih lama (kekal) dan lebih patut untuk diutamakan bagi orang - orang yang beriman.

Yang pasti terjadi atas setiap makhluk adalah bahwa masing - masing akan mati dan sesudah mati akan dihidupkan dan dibangkitkan kembali dalam suatu kehidupan untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang telah kita lakukan didunia.

Allah SWT telah menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ketetapan bagi kita untuk berbuat kebajikan sebanyak - banyaknya , menanam benih sebanyak-banyaknya demi untuk kehidupan kelak di akhirat. Apa yg dilakukan manusia di dunia akan berdampak dalam kehidupan akhirat , enak dan tidaknya kehidupan seseorang di akhirat kelak akan sangat bergantung pada bagaimana ia menjalani kehidupan di dunia ini, Manakala manusia selama didunia beriman dan banyak beramal saleh maka ia pun akan mendapatkan keni’matan dalam kehidupan di akhirat, sebaliknya manakala selama didunia manusia tidak beriman dan banyak melakukan kejahatan , kerusakan dan kemaksiatan maka iapun akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Karena itu ketika seseorang berorientasi memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan di akhirat maka ia akan menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana yg ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika manusia berorientasi kepada kehidupan akhirat bukan berarti ia tidak boleh menikmati dan mengurusi kehidupan di dunia ini , karena segala hal-hal yang bersifat duniawi / kehidupan dunia ini adalah ladang bagi kita untuk beribadah , berbuat kebajikan , berlomba mendapatkan ampunan , berlomba untuk memperbanyak amal saleh , itulah tugas manusia didunia seperti yang sudah kami uraikan dalam catatan sebelumnya (Tiga Tugas Pokok Manusia Di Dunia)

Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, bahkan beberapa detik ke depan waktu terus berlalu seiring perjalanan hidup, gunakan apa yg sudah kita peroleh dengan cara yang baik dan untuk kebaikan diri sendiri , orang lain maupun lingkungan hidup tempat kita menjalani kehidupan ini. 

Dan carilah apa-apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat kerusakan.” 

Apapun yang kita raih dan kita nikmati dalam kehidupan di dunia ini semua adalah dalam rangka membekali diri kita untuk kembali kepada Allah SWT dengan amal saleh yg sebanyak-banyak dan ketakwaan yang setinggi-tingginya.

Allah Subhanahu Wata'ala tidak mengharamkan perhiasan dunia dan segala kenikmatan yang kita peroleh di dunia ini , namun janganlah hal tersebut membuat kita lupa karena setiap karunia allah yang berupa kenikmatan dunia baik harta , pangkat , jabatan , adalah cobaan apakah kita mau bersyukur atau malah menjadikan kita kufur.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Tuesday, March 6, 2012

Ayat Ayat Al Quran

Ayat Ayat Al Quran
Continue Reading...

Thursday, February 23, 2012

sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak

Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling dari agama, serta mengumpulkan harta benda lalu menyimpannya.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir , apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman dari kedatangannya. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya. dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu di syurga lagi dimuliakan.

Al MA´AARIJ (TEMPAT-TEMPAT NAIK)











Continue Reading...

Madinah Al Munawarah

Selama ini, kebanyakan dari kita sudah terlanjur memahami kata “madinah” sebagai sebuah nama kota di Saudi Arabia; sebuah kota bersejarah dalam peradaban Islam. Bahkan, karena kemudian kata itu digandeng dengan kata “al-munawarah” sehingga menjadi “madinah al-munawwarah” yang artinya kota yang bercahaya, maka perlahan kata “madinah” dimaknai sebagai “kota” dalam bahasa Indonesia.

Saya pernah mendengar penjelasan dari seseorang bahwa kata “madinah” punya akar kata “dien” yang selama ini diterjemahkan sebagai “agama”. kata “din” itu sendiri telah membawa makna susunan kekuasaan, struktur hukum, aturan dan atau sistem serta norma dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya “din” itu tersembunyi suatu sistem kehidupan. sehingga kemudian madinah menjadi sebuah arti kata yang bermakna lebih luas sebagai Ibukota baik negara atau provinsi , hal ini didapatkan dari penjabaran kota sebagai suatu tempat tersusunnya suatu kekuasaan yang mengatur hukum atau aturan dan sistem yang berlaku di dalam suatu negeri.

Oleh sebab itu ketika din Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Artinya, madinah merupakan tempat dilaksanakannya din atau sistem dan atau aturan suatu negara. Seperti halnya, kata “masjid”, yang berasal dari kata sujud, diberi imbuhan “ma” menjadi bermakna “tempat sujud”. Dari akar kata “din” dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.

Dari akar kata “madana” itu kemudian lahir kata benda “tamaddun” yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). 

Pilihan kata dengan terminologi “madinah” yang berarti tempat dilaksanakannya hukum Allah. bisa menjadi sangat jelas, bahwa madinah bukan semata tentang kota. dan, madinah juga pernah ada jauh sebelum Nabi Muhammad ada. Jika pun kemudian ada perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, itu karena Nabi Muhammad berkaca dari sejarah kemilau tegaknya Agama Allah oleh Nabi-Nabi terdahulu.

didalam surah Yassin, yang bercerita tentang Nabi Musa, maka anda akan menjumpai satu firman Allah : “wa ja a min aqshal madinati rajulun yas’a.…” "dan datanglah lelaki dari ujung kota”. Jelas, bahwa di masa Musa, terminologi madinah sudah ada.


Lantas apa maksud dari madinah al munawwarah pada zaman rasulullah adalah kota madinah yang bercahaya ataukah madinah dengan arti tempat dilaksanakannya hukum Allah yang bercahaya.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Wednesday, February 22, 2012

Al Quran Dan Mu'jizat

Sebagai seorang Muslim yang beriman sudah sepantasnya kita meyakini dengan tidak hanya percaya bahwa Al Quran sebagai kitab suci Islam adalah mu'jizat yang besar dan firman Allah yang tidak akan terhapus dan ternodai kesuciannya sampai akhir zaman. Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad secara ajaib dari Allah  melalui malaikat Jibril (Gabriel), sempurna salinan kata demi kata dan apa yang tertulis adalah kebenaran yang harus diyakini. Oleh karena itu ayat-ayat dari buku ini disebut sebagai ayat, yang juga berarti "tanda" dalam bahasa Arab Hal. ini diyakini bahwa Al-Qur'an seperti yang kita kenal sekarang, adalah sama seperti yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad. Al-Qur'an itu sendiri memberikan tantangan terbuka bagi siapa saja yang menyangkal asal mengklaim ilahi untuk menghasilkan teks seperti itu.

Para kritikus percaya bahwa Muhammad dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan Kristen lebih tua, dan karena itu termasuk banyak dari keajaiban dikenal dari Alkitab dalam Al Qur'an. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa Muhammad buta huruf dan tidak membaca buku atau menulis buku [Quran 29:48] dan bahwa ia tidak tahu tentang peristiwa masa lalu [Quran 03:44] [11:49] [28:44].

Keajaiban diklaim dalam Al-Qur'an dapat diklasifikasikan menjadi kategori berbeda : mukjizat ilmiah dan nubuat.
Mujizat Ilmiah

Keyakinan bahwa telah dinubuatkan dalam Alquran teori-teori ilmiah dan penemuan dizaman sekarang dan telah menjadi keyakinan yang kuat dan luas di dunia Islam kontemporer; nubuat ini sering disediakan sebagai bukti asal-usul ilahi dari Al Qur'an. Fakta-fakta ilmiah diklaim dalam Al Qur'an ada pada subyek yang berbeda, termasuk penciptaan, astronomi, reproduksi manusia, Oseanologi, embroyology, zoologi, siklus air, dan banyak lagi.

Sarjana Islam berpikir bahwa ayat ini mengacu pada fakta-fakta ilmiah dalam Al Qur'an yang akan ditemukan oleh dunia dalam zaman modern, beberapa abad setelah wahyu dan bahkan kekal sampai akhir zaman. Kepercayaan ini, bagaimanapun, diperdebatkan di dunia Muslim. Sementara sebagian percaya dan mendukungnya, beberapa cendekiawan Muslim menentang keyakinan, mengklaim bahwa Al Qur'an bukan buku ilmu pengetahuan; Para sarjana berpendapat, kemungkinan penjelasan ilmiah beberapa fenomena alam, dan menolak untuk mensubordinasikan Al Qur'an untuk ilmu yang selalu berubah.

Nubuat

Bersambung Insya Allah
Continue Reading...

Kedatangan Ilmu Pengatahuan Modern

Kedatangan ilmu Pengetahuan modern di dunia Islam , Pada awal abad kesembilan belas, ilmu pengetahuan modern tiba di dunia Muslim tapi bukan ilmu itu sendiri yang cendekiawan Muslim paling banyak terkena imbasnya. Sebaliknya, "adalah pengalihan arus filosofis berbagai terjerat dengan ilmu pengetahuan yang memiliki efek mendalam pada benak para ilmuwan dan intelektual muslim. Sekolah seperti Positivisme dan Darwinisme merambah dunia Muslim dan didominasi kalangan akademisi dan memiliki dampak yang nyata pada beberapa doktrin teologis Islam. Ada tanggapan yang berbeda untuk ini di antara reaksi-reaksi para ulama Muslim diantaranya adalah sebagai berikut:

Beberapa menolak ilmu pengetahuan modern sebagai pemikiran asing yang korup, mengingat tidak kompatibel dengan ajaran Islam, dan dalam pandangan mereka hanya untuk mengaburkan ajaran terhadap masyarakat Islam yang ketat :





Pemikir lain di dunia Muslim melihat ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya sumber pencerahan yang nyata (menurut mereka) dan menganjurkan adopsi lengkap ilmu pengetahuan modern dalam pandangan mereka, dengan mengajarkan masyarakat Muslim akan penguasaan ilmu pengetahuan modern dan penggantian pandangan dunia keagamaan oleh pandangan dunia ilmiah.
Mayoritas ilmuwan Muslim yang setia mencoba untuk beradaptasi Islam dengan temuan ilmu pengetahuan modern, mereka dapat dikategorikan dalam sub kelompok berikut : 

(a) Beberapa pemikir Muslim berusaha untuk membenarkan ilmu pengetahuan modern dengan alasan agama. Motivasi mereka adalah untuk mendorong masyarakat Muslim untuk memperoleh pengetahuan modern dan untuk melindungi masyarakat mereka dari kritik Orientalis dan intelektual Muslim. 

(B) Lainnya mencoba untuk menunjukkan bahwa semua penemuan ilmiah penting telah diprediksi dalam tradisi Islam dan Qur'an dan menarik ilmu pengetahuan modern untuk menjelaskan berbagai aspek iman. 

(C) Namun ulama lain menganjurkan suatu re-interpretasi Islam. Dalam pandangan mereka, kita harus mencoba untuk membangun sebuah teologi baru yang dapat membangun hubungan yang layak antara Islam dan ilmu pengetahuan modern. mencari teologi alam yang melaluinya orang bisa kembali menafsirkan prinsip-prinsip dasar Islam dalam terang ilmu pengetahuan modern. 

(D) Kemudian ada beberapa sarjana Muslim yang percaya bahwa ilmu pengetahuan empiris telah mencapai kesimpulan yang sama dari para nabi yang telah menganjurkan ajaran tersebut beberapa ribu tahun yang lalu.

Akhirnya, beberapa filsuf Muslim dipisahkan temuan ilmu pengetahuan modern dari lampiran filosofisnya. Jadi, sementara mereka memuji upaya ilmuwan Barat untuk penemuan rahasia alam, mereka memperingatkan terhadap berbagai empiris dan interpretasi materialistik dari temuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah dapat mengungkapkan beberapa aspek dunia fisik, tetapi tidak harus diidentifikasi dengan alfa dan omega pengetahuan. Sebaliknya, itu harus diintegrasikan ke dalam kerangka metafisik yang konsisten dengan pandangan dunia Islam di mana tingkat yang lebih tinggi dari pengetahuan diakui dan peran ilmu pengetahuan  membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Kompatibilitas Islam dan perkembangan ilmu dalam Budaya Islam telah mempromosikan atau menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam sengketa. Banyak ulama salaf dan modern setuju dan membenarkan Al Qur'an bahkan mendorong perolehan ilmu dan pengetahuan ilmiah, dan mendesak manusia untuk merenungkan fenomena alam sebagai tanda-tanda ciptaan Allah. Beberapa instrumen ilmiah yang dihasilkan di zaman klasik di dunia Islam yang bertuliskan kutipan Al quran. Banyak Muslim setuju bahwa melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah tindakan kebaikan agama, bahkan kewajiban kolektif dari komunitas Muslim.

Sementara yang lain mengklaim penafsiran tradisional Islam tidak kompatibel dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Islam sedikit tertinggal di belakang dari dunia Barat dalam kemajuan ilmu pengetahuan setelah (sekitar) 1500 AD disebabkan oleh oposisi ulama tradisional dalam upaya untuk merumuskan penjelasan sistematis fenomena alam dengan "hukum alam." Dia menyatakan bahwa mereka percaya hukum seperti itu menghina Tuhan karena mereka membatasi "kebebasan Allah untuk bertindak".

Pada awal abad kedua puluh ulama melarang pembelajaran bahasa asing dan diseksi tubuh manusia di sekolah kedokteran. Dalam beberapa tahun terakhir, ketertinggalan dunia Muslim dalam ilmu terwujud dalam jumlah yang tidak proporsional , keluaran ilmiah yang diukur dengan kutipan dari artikel yang dipublikasikan atau beredar luas dimasyarakat, pengeluaran tahunan pada penelitian dan pengembangan, dan jumlah penelitian para ilmuwan dan insinyur.

Menurut banyak sejarawan, ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam berkembang selama abad pertengahan, tetapi mulai menurun pada beberapa waktu di sekitar abad 14 sampai 16 . Setidaknya beberapa sarjana menyalahkan ini pada Contoh konflik dengan interpretasi yang berlaku Islam dan ilmu pengetahuan "munculnya faksi ulama yang membekukan ilmu yang sama dan kemajuan yang layu" dan semakin menjauhkan manusia dari menerima keberadaan Sang Pencipta.

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Monday, February 20, 2012

Ilmu Pengetahuan Islam

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan Islam mengacu pada ilmu yang dikembangkan dalam peradaban Islam antara abad ke-8 dan 16, yang dikenal sebagai Masa Keemasan Islam. juga dikenal sebagai ilmu bahasa Arab karena sebagian besar teks-teks selama periode ini ditulis dalam bahasa Arab, lingua franca peradaban Islam. Meskipun istilah-istilah ini, tidak semua ilmuwan selama periode ini adalah Muslim atau Arab, karena ada sejumlah ilmuwan non-Arab terutama Persia, serta beberapa ilmuwan non-Muslim, yang berkontribusi untuk penelitian ilmiah di dunia Islam .

Sejumlah sarjana modern menganggap ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah telah sangat terinspirasi oleh para ilmuwan Muslim yang memperkenalkan pendekatan empiris, eksperimental dan kuantitatif modern untuk penyelidikan ilmiah. Beberapa ulama terkenal menyebut prestasi mereka sebagai sebuah revolusi ilmiah Muslim, meskipun ini tidak bertentangan dengan pandangan tradisional dari Revolusi Ilmiah yang masih didukung oleh kebanyakan ahli.

Hal ini diyakini bahwa itu adalah sikap empiris dari Qur'an dan Sunnah yang terinspirasi ilmuwan Muslim abad pertengahan, di Alhazen tertentu (965-1037), untuk mengembangkan metode ilmiah. Ia juga dikenal bahwa kemajuan tertentu yang dibuat oleh para astronom Muslim abad pertengahan, ahli geografi dan matematikawan dimotivasi oleh masalah yang disajikan dalam Kitab Suci Islam, seperti pengembangan Al-Khwarizmi aljabar untuk memecahkan hukum waris Islam, dan perkembangan astronomi, geometri geografi, dan bola trigonometri untuk menentukan arah kiblat, waktu dari Salah doa, dan tanggal dalam kalender Islam.

Peningkatan penggunaan dalam kedokteran Islam selama berabad-abad dipengaruhi oleh tulisan-tulisan para teolog Islam, Al-Ghazali, yang mendorong studi tentang anatomi dan penggunaan pembedahan sebagai metode memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Tuhan. Dalam koleksi al-Bukhari dan Muslim dari hadits shahih dikatakan: "Tidak ada penyakit yang Allah telah menciptakan, kecuali bahwa Dia juga telah menciptakan pengobatannya." (HR Bukhari ). Hal ini memuncak dalam karya Ibn al-Nafis (1213-1288), yang menemukan sirkulasi paru pada 1242 dan digunakan penemuannya sebagai bukti doktrin Islam ortodoks dari kebangkitan tubuh. Ibn al-Nafis juga digunakan Kitab Suci Islam sebagai pembenaran untuk penolakannya terhadap anggur sebagai pengobatan sendiri. Kritik terhadap alkimia dan astrologi juga dimotivasi oleh agama, sebagai teolog Islam ortodoks memandang keyakinan alkemis dan astrolog sebagai takhayul.

Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), dalam menangani konsepsinya tentang fisika dan dunia fisik dalam bukunya Matalib, membahas Islam kosmologi, mengkritik gagasan Aristoteles tentang sentralitas bumi dalam alam semesta, dan "mengeksplorasi gagasan adanya multiverse dalam konteks komentarnya, "berdasarkan ayat Al-Qur'an," Segala pujian milik Allah, Tuhan semesta alam. " Dia mengangkat pertanyaan apakah istilah "dunia" dalam ayat ini mengacu pada "dunia dalam beberapa alam semesta yang tunggal atau kosmos, atau alam semesta lain atau multiverse luar alam semesta yang diketahui." Atas dasar ayat ini, ia berpendapat bahwa Tuhan telah menciptakan lebih dari seribu dunia di luar dunia ini sehingga setiap orang dari dunia-dunia menjadi lebih besar dan lebih besar dari dunia ini serta memiliki sejenisnya dari apa yang dunia ini.

Menurut banyak sejarawan, ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam berkembang selama abad pertengahan, tetapi mulai menurun pada beberapa waktu sekitar 14 sampai 16 abad. Setidaknya beberapa sarjana menyalahkan ini pada munculnya beberapa ulama yang membekukan ilmu yang sama dan kemajuan layu yang pada dasarnya tidak memberikan pengaruh apapun kepada manusia melainkan kebanyakan manusia semakin tidak percaya kepada adanya Sang Pencipta. 

Tidak dapat kita tolak dan sudah terbukti adanya bahwa ilmu pengetahuan yang sejatinya telah Allah Subhanahu Wata'ala berikan mustinya memberikan kebahagian dan ketenangan serta ketentraman dan Iman , kini malah sebaliknya semakin menjerumuskan manusia pada ke-syirikan dan kekufuran akan adanya Sang Pencipta. (bersambung Insya Allah)

Wallahu A'lam
Continue Reading...

Islam Dan Science

Islam dan ilmu pengetahuan menggambarkan hubungan antara komunitas Muslim dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Dari sudut pandang Islam, ilmu pengetahuan, studi tentang alam, dianggap terkait dengan konsep Tauhid (keesaan Tuhan), seperti juga semua cabang pengetahuan lainnya.

Dalam Islam, alam tidak dilihat sebagai entitas yang terpisah, melainkan sebagai bagian integral dari pandangan holistik Islam tentang Tuhan, kemanusiaan, dan dunia. Link ini menyiratkan aspek suci untuk mengejar pengetahuan ilmiah oleh umat Islam, karena alam itu sendiri dilihat dalam Al Qur'an sebagai kumpulan tanda-tanda yang menunjuk kepada Tuhan. 

Adalah dengan pemahaman ini bahwa mengejar ilmu ditoleransi dalam peradaban Islam, khususnya selama kedelapan sampai abad keenam belas, sebelum kolonisasi dunia Muslim. keberadaan ilmu pengetahuan, sebagaimana dipahami dalam pengertian modern, berakar dalam pemikiran ilmiah dan pengetahuan yang muncul dalam Islam peradaban selama ini.

Ilmuwan Muslim dan ulama kemudian mengembangkan spektrum sudut pandang pada tempat pembelajaran ilmiah dalam konteks Islam, tidak ada yang secara universal diterima. Namun, sebagian mempertahankan pandangan bahwa akuisisi mengejar pengetahuan dan ilmiah pada umumnya adalah tidak menyelisihkan dengan pemikiran Islam dan keyakinan agama. 

Agama Islam memiliki sistem sendiri terhadap pandangan dunia termasuk keyakinan tentang "realitas terakhir, epistemologi, ontologi, etika, tujuan, dll" Setiap Muslim harus percaya dan yaqin bahwa Al Qur'an adalah wahyu terakhir Allah untuk membimbing manusia.

mengejar pengetahuan dan pemahaman tentang alam dunia dan kegiatan sosial mengikuti metodologi sistematis berdasarkan bukti. Ini adalah sebuah sistem memperoleh pengetahuan berdasarkan empirisme, eksperimentasi, dan naturalisme metodologis, serta tubuh yang terorganisasi manusia telah mendapatkan pengetahuan dengan penelitian tersebut.

Para ilmuwan berpendapat bahwa penelitian ilmiah harus sesuai dengan metode ilmiah, sebuah proses untuk mengevaluasi pengetahuan empiris yang menjelaskan peristiwa yang dapat diamati di alam sebagai hasil dari sebab-sebab alamiah, menolak gagasan supranatural. Islam, seperti semua agama, percaya pada supranatural yang dapat diakses atau berinteraksi dengan manusia dalam kehidupan ini.

Salah satu fitur yang paling penting dari Ilmu adalah prediksi kuantitatif yang tepat dalam aspek ini hal itu berbeda dari teks-teks agama di mana fenomena fisik digambarkan dalam cara yang sangat kualitatif, seringkali dengan penggunaan kata-kata yang membawa beberapa makna. (Bersambung InSya Allah)

Wallahu A'lam
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info

?>

Text

Dunia Islam Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template